Thursday, July 18

AS dan Cina Perang Dagang, Properti Hongkong Terimbas

Amerika Serikat dan Cina saat ini sedang terlibat dalam perang dagang. Hongkong adalah bagian dari Cina. Harga properti di bekas koloni Inggris itu pada pekan lalu mencapai kenaikan harga tertinggi, setelah selama tiga bulan terakhir terus mengalami kenaikan.
Hongkong dengan gedung-gedung pencakar langitnya (Foto: Strait Times)

HONGKONG – Wartaproperti.com : Dikhawatirkan, setelah menyentuh titik itu gelebung properti di Hongkong pun akan berakhir dan harga properti di sana mulai mengalami penurunan. Sejak awal tahun hingga pada titik tertinggi pekan lalu, tercatat properti di Hongkong mencatat kenaikan hingga 8,6%.

Dampak dari perang dagang AS-Cina ini, Hongkong pun mendapat serangan dari kondisi di pasar saham. Dengan adanya peristiwa ini, analis setempat mensinyalir, harga rumah atau properti di sana sudah mengalami penurunan.

“Sentimen yang ada membawa kekhawatiran lebih besar untuk beberapa bulan ke depan, atau bahkan lebih lama lagi. Apabila pasar saham terus tertekan, terutama jika ketegangan antara China dengan AS tidak membaik, harga rumah bisa anjlok,” kata Tommy Wu di Oxford Economics Ltd., Hong Kong sebagaimana disiarkan Bloomberg, Selasa (11/6/2019).

Asal tahu saja, perang dagang adalah sebuah kondisi yang sepenuhnya bukan masalah fundamental bisnis. Namun di dalamnya ada unsur politis yang menghasilkan sensitifitas yang tinggi dari lantai bursa. Pasar saham pun sangat rentan terhadap kondisi seperti ini. Koreksi pada bursa saham ini diperkirakan akan menekan penjualan properti hingga 40% pada Juni ini.

Menurut Knight Frank LLP, volatilitas pasar saham alih-alih akan menaikan harga properti, sebaliknya justru akan menekan properti hingga turun 5% pada semester kedua tahun ini.

Tentang penggelembugan harga properti ini, Ekonom juga profesor di Harvard, Carmen Reinhart juga menyebutkan bahwa di pasar properti Hong Kong kemungkinan sedang terjadi penggelembungan.

“Pemerintah Hong Kong sebetulnya bisa, tetapi sepertinya mereka tidak mau untuk memecahkan masalah itu. Namun, bagaimanapun pasar akan melakukannya sendiri untuk mereka, harga pasti akan jatuh karena ekonomi melambat dan China memperketat arus keluar.” (Ferdinand Lamak/Bloomberg)

(Visited 11 times, 3 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: