Saturday, October 19

Trotoar Selebar 1,5 M di Jakarta Harus Bebas PKL

Mungkinkah trotoar selebar ini akan diisi pula oleh PKL? (Foto: KompasTV)

Pemprov DKI sedang mengkaji alokasi luas trotoar untuk pejalan kaki dan pedagang kaki lima. Namun, untuk trotoar yang hanya selebar 1,5 meter, PKL tidak diperbolehkan berjualan disana.

WARTAPROPERTI.COM: Bayangkan jika semua trotoar di DKI Jakarta boleh diisi oleh pedagang kaki lima. Dimana lagi tempat untuk pejalan kaki? Padahal, pada jam-jam sibuk di jalur-jalur padat kendaraan, pejalan kaki pun kesulitan untuk melintas karena sempitnya trotoar yang disediakan.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hari Nugroho menegaskan bahwa tak semua trotoar di jalanan Ibu Kota bakal diisi oleh pedagang kaki lima (PKL). Itu sebabnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengkaji untuk memutuskan di ruas-ruas trotoar mana saja PKL bisa menggelar lapaknya.

“Memang kalau trotoar sudah bagus, tidak boleh PKL mengokupansi trotoar. Tapi bisa dilihat, trotoar yang ideal itu kan minimal 1,5 meter. Kalau minimal itu untuk trotoar, ya trotoar. PKL tidak boleh!” ungkap Hari ketika ditemui selpas menghadiri acara di bilangan Setia Budi, Jakarta Selatan, Jumat (6/9/2019) dini hari.

Baca juga: Bollard berbentuk orang-orangan akan hadir di trotoar Surabaya

Lain halnya jika trotoarnya selebar 6 meter atau 8 meter, dan ada space yang bisa dimanfaatkan untuk PKL, maka mereka boleh berdagang, namun dengan catatan agar tempatnya dijaga rapih, ramah lingkungan, tidak kotor dan jorok.

Hari menekankan bahwa pihaknya tetap akan mengakomodir keinginan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait penataan PKL di trotoar dengan kota percontohan New York atau Hongkong. Yakni modern, tidak kumuh, portable, bahkan diharapkan justru bisa membantu melengkapi kehidupan warga Jakarta. Misalnya, memberikan tempat berteduh, atau mampu menyediakan makanan yang sesuai waktu.

“Trotoar kita sudah pakai andesit-granit tau-tau disiram kopi, bakso. Jadi saya juga sudah sampaikan pada Dinas UMKM dan wali kota, tolong dibina loksem-loksem itu diberikan edukasi supaya nanti berubah. Kan dia jualan itu juga harus meningkatkan kualitas dengan mengubah diri,” jelas Hari.

“Jadi PKL-nya rapi, trotoarnya bersih, jadi dua-duanya dapet. Tapi kalau nggak mau dibina ya sudah, istilahnya minggir. Kita memanusiakan tapi harus pakai aturan yang jelas,” tegasnya. (BIS/MarloKR)

(Visited 5 times, 4 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: