Saturday, October 19

Bandung Kota Termacet di Indonesia, Ini Solusinya

Deretan kendaraan terjebak kemacetan di Jln. Ir. Juanda, Kota Bandung, Sabtu (28/2/2015). Hingga saat ini Pemerintah Kota Bandung belum bisa mengatasi kemacetan di sejumlah ruas jalan pusat kota, akibat kondisi tersebut berdampak kerugian ekonomi mencapai Rp 4,36 triliun per tahun. (Foto: ARMIN ABDUL JABBAR/”PR”)

Kota Bandung mengalahkan Jakarta sebagai kota paling macet di Indonesia. Untuk Asia, kota ini ada di peringkat 14 sedangkan Jakarta 17.

WARTAPROPERTI.COM-Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan sejumlah tambahan pembangunan jalan layang guna mengurai kemacetan. Kota Bandung tercatat sebagai kota termacet se-Indonesia berdasarkan survei terbaru Asian Development Bank (ADB).

Di tingkat Asia, Bandung berada di urutan ke-14 kota termacet. Sementara itu, DKI Jakarta berada di urutan ke-17, lalu Surabaya di urutan 20.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengatakan selain pembangunan dua jalan layang yang sedang dikerjakan saat ini, pihaknya telah merencanakan pembangunan lain.

“Insyaallah tahun depan pemkot akan bangun fly over di Jalan Soekarno Hatta, naik dari sebelum Leuwi Panjang, melintas ke perempatan Cibaduyut dan Kopo,” kata Yana di Balai Kota Bandung, Senin (7/10) seperti dilansir Antara.

Ia yakin pembangunan tersebut akan terlaksana pada tahun 2020. Pasalnya, kata Yana,saat ini proses pembebasan lahannya sudah hampir selesai seluruhnya.

“Karena pembebasan lahannya sudah 95 persen, saat ini sudah teranggarkan 5 persen untuk pembebasan lahan, sehingga tahun depan konstruksi bisa terlaksana,” kata Yana.

Terkait pelabelan Bandung kota termacet se-Indonesia, Yana menyebut itu tak lepas dari tambahan 1,2 juta warga luar kota yang beraktivitas pada siang hari.

“Jadi Bandung saat ini penduduknya 3,7 juta jiwa siang hari, kalau malam hari 2,5 juta jiwa, ada 1,2 juta penduduk luar Kota Bandung yang melakukan aktivitas di Kota Bandung, sehingga kemacetan menjadi satu hal yang akan terjadi,” kata Yana.

Dalam survei yang dilakukan ADB, ada sedikitnya 278 kota yang diteliti dari sebanyak 45 negara.

Yana mengatakan saat ini pihak Pemerintah Kota Bandung cukup kesulitan dalam melakukan upaya pelebaran jalan. Strategi rekayasa lalu lintas pun menurutnya tak begitu maksimal.

Menurut dia di Bandung banyak persimpangan yang jaraknya cukup pendek. Akibatnya kemacetan akan mudah terjadi akibat padatnya jumlah kendaraan yang berada di jalan.

Selain itu, opsi untuk memberlakukan rekayasa ganjil genap bagi kendaraan menurut dia tidak akan cocok jika diterapkan di Kota Bandung karena koridor jalan yang pendek.

“Misalkan kita lakukan ganjil genap di Jalan Asia Afrika, tapi itu sekadar koridor pendek, itu pasti akan menyebabkan kemacetan di kawasan lain,” kata Yana.

Kemacetan juga menurut dia sesuatu yang akan terjadi karena penduduk Bandung saat ini sudah melebihi kapasitas. Dia menyebut Kota Bandung hanya di desain untuk 500 ribu penduduk.

“Jadi memang dengan jumlah penduduk saat ini dan 1,2 juta tambahan masyarakat, jadi cukup sulit,” katanya. (MarloKR)

(Visited 2 times, 2 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: