December 3, 2022

Pengamat Perencanaan Pembangunan Nasional, Syahrial Loetan mengungkapkan, Bandung dan Surabaya pantas menyandang predikat smart city atau Kota Cerdas. Pemimpin kedua kota tersebut punya komitmen tinggi.

Meskipun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) memang tidak spesifik disebutkan kota-kota yang akan dirancang menjadi smart city, namun saat ini Bandung dan Surabaya merupakan dua kota besar yang pemimpinnya punya komitmen untuk menjadikan kotanya lebih humanis.

“Nah mereka itu pantas disebut sebagai smart city,” kata Loetan pada seminar perkotaan Transforming Lives – Human & Cities bertema ‘People Oriented Urban Design’ yang diselenggarakan atas kerjasama Universitas Pelita Harapan (UPH), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan (Universitas Indonesia UI), serta Ikatan Arsitek Indonesia, di Jakarta, Kamis (25/2/2016).

Menurut Loetan, dalam hal penerapan konsep Kota Cerdas, pemda kedua kota ini telah mengajak dan berbicara dengan para pihak terkait seperti stakeholder, akademisi, warga, dan bahkan organisasi non-pemerintah.

“Karena memang konsep Kota Cerdas seperti itu. Semuanya harus diajak karena kalau itu satu saja hilang maka cacat pembangunan. Sementara smart city ini butuh banyak pihak yang terlibat. Jadi elemen-elemen kota harus bersatu untuk mendukung sistem yang akan dibangun,” tambahnya.

Selain itu, peran kepala daerah juga sangat penting dalam mengembangkan Kota Cerdas. Jadi, ke depannya, implementasi smart city di Indonesia diperkirakan tidak akan terpaku pada inisiatif pemerintah pusat. Pemerintah daerah akan memegang kendali untuk menerapkan smart city.

“Otonomi daerah sejak awal 2000-an membuat kekuasaan nggak selalu ada di Jakarta atau pusat. Ya, walaupun begitu pemerintah daerah (pemda) tak bisa jalan sendiri,” kata Loetan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.