December 3, 2022

Rancangan kota yang akan dibangun di Pulau G

Salah satu Water Front City termegah di dunia.
Salah satu Water Front City termegah di dunia.

WARTAPROPERTI.COM | Sama seperti Ir. Ciputra ketika mulai menanamkan tekad untuk meyulap wajah koridor Satrio-Casablanca bertahun-tahun silam, demikian pula juniornya di industri properti, Trihatma Kusuma Haliman, chairman sekaligus pemilik Agung Podomoro Group (PT Agung Podomoro Land, Tbk.). Pak Tri, demikian ia disapa, juga terinspirasi dari Singapura ketika mulai merencanakan pembangunan Pluit City.

“Jadi, saya terinsipirasi dari Singapura. Anda lihat Singapura di masa lalu seperti apa. Tidak ada apa-apanya. Tapi coba lihat sekarang. Mereka lakukan reklamasi dan itu sudah menjadi financial district yang setiap hari berapa banyak uang berputar di kawasan itu. Selain itu, Singapura sekarang menjadi sangat bagus, sangat indah dengan penataan yang luar biasa. Nah saya ingin kita, Jakarta bisa punya itu. Ya semacam little Singapura, bersih, rapih, smart city dengan harga yang terjangkau,” kisahnya kepada WartaProperti.Com beberapa waktu lalu.

Itu sebabnya ia mengajak warga Jakarta untuk melihat reklamasi pulau ini dengan positif, bahwa di Jakarta iniĀ  pantainya sudah tidak bisa dinikmati lagi sehingga jika kita dapat membangun sebuah waterfront city, hal ini akan menjadi bagus. Ketika pulau hasil reklamasi ini sudah terbangun, hi-rise building juga sudah terbangun, penerimaan negara pun jadi bertambah.

Trihatma tidak memungkiri kekhawatiran berbagai pihak akan dampak sosial dan lingkungan yang akan ditimbulkan oleh proyek pembangunan Pluit City. Ia berkata, di Pluit City pihaknya berusaha menjaga agar lingkungan sekitar bisa ikut terjaga dengan baik. “Kami harus mengembangkan tanaman Bakau di sekitar pulau. Begitu juga dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Seperti di Muara Angke, kami sudah bangun. Ada tiga lokasi di sana yang sudah kami bangun rusunawa untuk menjadi hunian para nelayan. Ini merupakan tanggungjawab atas kewajiban yang diberikan kepada kami. Kami menjalankan kewajiban lebih dahulu sebelum proyek ini kami kembangkan.”

Ia pun menambahkan, “Saya memaklumi kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, namun perlu diketahui bahwa dalam reklamasi ini kita menggunakan pasir yang dikeruk dari laut, bukan ambil dari darat.”

Sekadar catatan saja, Pluit City bukanlah produk reklamasi yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Kawasan Ancol pada jaman Soekarno juga dibangun dengan cara reklamasi. Bahkan sekarang Ancol terus melakukan reklamasi. Begitu juga dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan demikian, ide ini bukanlah hal yang baru. (FL/Foto: Istimewa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.