November 28, 2022
Harga properti di atas kawasan reklamasi jauh lebih mahal
Harga properti di atas kawasan reklamasi jauh lebih mahal

WARTAPROPERTI.COM | Agung Podomoro Land bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan proses reklamasi pulau di Teluk Jakarta. Perusahaan ini boleh jadi sangat disoroti lantaran ambisinya membangun sebuah kota baru bernama Pluit City dan ingin dengan cepat mewujudkannya. Sudah begitu, proyek ini pun menelan investasi yang tidak kecil. Jika tiga pulau yang sedianya akan direklamasi itu digarap, maka butuh invetasi hingga Rp50 triliun untuk menjadikannya sebagai daratan baru di depan Kota Jakarta.

“Tahun 2013, jauh sebelum APL mulai bergegas merealisasikan mimpinya membangun water front city dengan nama Pluit City ini, saya pernah menulis bahwa sesungguhnya ada 17 buatan yang akan dikembangkan di teluk Jakarta dan perijinannya atas nama sejumlah perusahaan, baik swasta murni maupun BUMN dan BUMD. Jadi, bukan hanya Agung Podomoro saja,” ungkap Ferdinand Lamak, Direktur Center for Urban Development and Studies (CUDES) di Jakarta, hari ini Sabtu (16/4/2016).

Menurut editor senior di bidang properti ini, pengembang pasti akan memilih untuk melakukan pengembangan ke laut karena ketersediaan lahan di darat dalam skala yang besar sudah tidak ada lagi. Selain itu, secara value pengembangan properti di atas lahan hasil reklamasi tentunya lebih menguntungkan bagi pengembang, juga konsumen properti, sekalipun investasi mereka hari ini tidaklah kecil.

“Investasi pengembang untuk melakukan reklamasi memang besar. Sebagai gambaran, investasi yang digelontorkan pengembang untuk mendapatkan 1 meter persegi lahan reklamasi saja bisa mencapai Rp15 juta, itu belum termasuk berbagai kewajiban yang melekat pada pengembang sesuai aturan yang berlaku. Bandingkan dengan harga lahan di daratan Pluit dan sekitarnya. Catatan saya, saat ini harga jual di kawasan Green Bay Pluit saja sudah melampaui Rp20 juta per meter persegi,” ungkap Lamak.

Baca juga: Reklamasi Pulau, Bukan Hal Baru di Indonesia

Menurut dia, dengan investasi demikian besar tentu saja setelah dikembangkan nanti harga jual properti di atas pulau buatan ini pun akan diserap oleh kalangan yang berduit karena tingginya harga properti di atas lahan hasil reklamasi ini. Berapa perbandingan harga properti di atas lahan hasil reklamasi dengan yang ada di darat?

“Di lahan hasil reklamasi harganya bisa 100% lebih mahal, contohnya saya masih mencatat dengan baik, ketika tahun 2013 harga 1 meter persegi di apartemen milik Intiland di Teluk Jakarta yakni The Icon, Regatta mencapai Rp35 juta hingga 40 juta, di Jakarta Selatan ada apartemen yang sekelas 1 Park Avanue, Gandaria, harga per meternya hanya Rp24 juta. Juga, misalnya harga rumah di Jaya Ancol Seafront dengan luas lahan 225 m2 ketika itu mencapai Rp 6,4 miliar, Anda bisa mendapatkan rumah dengan ukuran dan kelas yang sama di BSD City hanya dengan Rp 4 miliar,” terang Lamak.

Menurut dia, apa yang menimpa APL ini hendaknya menjadi pengalaman bagi developer agar benar-benar mentaati hukum dan tidak mencoba memengaruhi kebijakan dengan cara yang melanggar hukum. Ia juga memberikan catatan bahwa kasus yang tengah ditangani KPK ini, sama sekali tidak berkaitan dengan substansi reklamasi dan berbagai dampak ikutannya. “Reklamasi dan berbagai ketentuan yang mengikutinya adalah hal yang berbeda, sementara kasus yang melibatkan oknum pimpinan DPRD DKI Jakarta ini adalah sebuah kasus hukum dengan tata cara penyelesaian yang berbeda pula.” (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.