December 3, 2022
Diskusi tentang KPR Syariah di Jakarta
Diskusi tentang KPR Syariah di Jakarta

WARTAPROPERTI.COM | Pembiayaan properti konvensional dengan produk seperti kredit pemilikan rumah (KPR) masih mendominasi pasar jika dibandingkan dengan produk perbankan syariah. Padahal, perbankan syariah telah cukup lama hidup di Indonesia. Namun perkembangannya dirasa kurang signifikan dan belum bisa mengimbangi perkembangan bank konvensional.

Salah satu masalahnya adalah kurangnya edukasi kepada masyarakat terhadap produk-produk yang ditawarkan keuangan syariah termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Padahal, menurut Departement Head Consumer Bank Syariah Mandiri Widodo Darojatun, banyak keuntungan yang bisa didapat bila menggunakan KPR Syariah. “Pertama adalah dari sisi cicilan, KPR Syariah itu bisa memberikan cicilan fixed (tetap) selama proses kredit,” kata dia dalam diskusi Chat After Lunch di Hong Kong Cafe, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

Hal ini berbeda dengan KPR konvensional yang besaran cicilannya akan berubah dan cenderung meningkat seiring dengan tingkat inflasi dan kenaikan suku bunga perbankan setiap tahunnya. “Hal ini dikarenakan pada KPR Syariah, margin KPR sudah dihitung di awal. Sehingga besaran cicilannya tinggal dibagi dengan lama masa cicilannya. Jadi nggak ada kenaikan seperti di Bank Konvensional,” kata dia.

Keuntungan kedua adalah besaran fasilitas pinjaman alias plafon yang bisa diterima nasabah. Menurut Widodo, KPR Syariah lebih longgar dalam memberikan fasilitas pinjaman yakni bisa memberikan besaran pembiayaan yang lebih besar ketimbang bank konvensional. “Lebih besarnya berapa? Sekitar 5%. 5% itu lumayan loh. Kalau dia beli rumah Rp 1 miliar, dia bisa hemat sekitar Rp 50 juta,” ujar dia.

Ia mencontohkan, pada bank konvensional persetujuan pinjaman diberikan sebesar 80% dari nilai rumah yang akan dibeli. Maka pada bank syariah besarannya bisa mencapai 85%. Dengan perhitungan tersebut, seseorang yang membeli rumah dengan harga Rp 1 miliar, maka dia bisa mendapat fasilitas pinjaman sebesar Rp 850 juta dari bank syariah. Sementara dari bank konvensional dia hanya mendapat Rp 800 juta. “Kan lumayan ia bisa hemat bayar uang muka Rp 50 juta. Kalau di syariah hanya bayar Rp 150 juta, di konvensional dia bayar Rp 200 juta.

Sayangnya, menurut dia, memang ada keterbatasan perbankan syariah dalam melakukan komunikasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Sehingga keunggulan-keunggulan bank syariah tersebut kurang mendapat tempat di masyarakat. “Contohnya pernah satu ketika ada seorang sopir taksi bertanya ke saya, apa sih bank syariah? Kalau oleh customer service pasti diberi penjelasan panjang lebar. Kalau saya memilih penjelasan yang sederhana. Bank syariah itu, ibarat makanan yang diberi label halal,” tutur Widodo.

Dengan penjelasan itu, sang sopir taksi lebih memahami arti dari bank syariah. Harusnya, kata Widodo, komunikasi yang sederhana itu bisa juga diterapkan pada KPR syariah, sehingga masyarakat bisa lebih tertarik dan mau memanfaatkan fasilitas pembiayaan ini. “Memang harus ada inovasi-inovasi termasuk dalam hal komunikasi. Supaya orang mau dan menggilai produk syariah ini. Sekarang memang kendalanya, inovasi itu belum masif,” pungkas dia. (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.