November 27, 2022
Perumahan baru di Cibinong, Bogor
Perumahan baru di Cibinong, Bogor

WARTAPROPERTI.COM | Kabupaten Bogor mendominasi pasokan hunian rumah tapak untuk segmen menengah ke bawah dengan prosentase mencapai 37%. Bersaing secara ketat, di posisi kedua Kabupaten Bekasi terpaut tak jauh dengan memasok 35% sedangkanĀ  Kota Depok dan Kota Bekasi di urutan ketiga dan empat, masing-masing dengan 13% dan 7%. Demikian hasil survei yang dilakukan oleh Center for Urban Development Studies pada periode Maret hingga Mei 2016 di 10 titik konsentrasi permukiman di Jabodetabek untuk kategori rumah tapak baru yang dibangun oleh perusahaan pengembang.

“Dari total pasokan sebanyak 2.755 unit rumah tapak dari kisaran harga Rp150 juta hingga Rp500 juta, 37% disumbangkan oleh kawasan Bogor, khususnya wilayah Kabupaten Bogor dengan konsentrasi di beberapa titik antara lain, Bojong Gede, Cibinong, Pondok Rajeg, Cileungsi, Gunung Putri dan Bojong Depok,” demikian dikemukakan oleh Chairman CUDES, Ferdinand Lamak kepada media di Jakarta hari ini, Senin (13/06/2016).

Menurut dia, survei ini tidak mencakup rumah bersubsidi yang harganya dipatok berdasarkan harga maksimal per wilayah. Sementara itu, unit-unit yang diidentifikasi adalah pengembang yang berbadan hukum, sekalipun di lapangan ditemukan pula tidak sedikit pengembang tradisional atau perorangan yang bermain di segmen pasar menengah ke bawah pada kisaran harga tersebut.

Lamak mengatakan, melejitnya Bogor dalam kontribusi pasokan rumah menengah bawah non subsidi ini sekaligus merefleksikan masih terjaganya wilayah ini dari lonjakan harga tanah yang sekarang sudah dan sedang melanda sejumlah kawasan lain di Jabodetabek. “Poros Citayam Bogor yang menjadi lumbung pasokan hunian di bawah Rp500 jutaan, nyaris tidak tersentuh oleh megaproyek dari pengembang raksasa sehingga praktis dalam kondisi normal pun harga rumah di kawasan ini meningkat dalam batas normal, rerata kurang dari 10% per tahun.”

CUDES memperkirakan, 80% dari total pasokan rumah ini akan diserap oleh pembeli yang adalah kaum komuter atau pekerja di kawasan Jakarta. Itu sebabnya, lembaga ini mengingatkan hal penting yang harus diantisipasi yakni keterbatasan moda transportasi yang menghubungkan wilayah Bogor dan Jakarta. “Mayoritas mengandalkan transportasi kereta api yang semakin hari semakin padat saja jumlah penumpangnya. (HH/Foto: Ist)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.