November 27, 2022

Penulis: Ferdinand Lamak, Chairman of Center for Urban Development Studies (CUDES), Jakarta

WARTAPROPERTI.COM | Lebih dari 13 tahun saya menulis tentang properti dan pernak-pernik seputar investasi properti di berbagai media masa dimana saya pernah menjadi chief editornya. Saya berjumpa dan berdiskusi dengan investor properti yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak hanya kisah sukses yang mereka bagikan, tetapi tidak sedikit juga yang mengungkapkan penyesalannya, lantaran salah membuat keputusan, keuntungannya pun tipis-tipis saja.

Nah berangkat dari rekaman perjalanan tersebut, saya berani membuat konklusi yang dapat dijadikan referensi, terutama bagi pembeli rumah pertama. Karena Anda adalah passive investor dan mungkin akan terkaget-kaget jika menyadari bahwa aset milik Anda tersebut telah mengalami lonjakan nilai yang tidak Anda sangka-sangka.

Kegagalan investasi properti karena kelalaian sendiri
Kegagalan investasi properti karena kelalaian sendiri

Berangkat dari fakta tersebut maka berikut ini 6 konklusi yang dapat menjadi pegangan, mengapa keuntungan  dari investasi properti yang dilakukan oleh seorang investor, tidaklah maksimal sebagaimana digambarkan oleh para pemasar properti di awal.

1. Menuggu terlalu lama untuk memulai

Ada orang yang tidak sabar menunggu untuk menjadi kaya raya dan mereka terus mengejar, kapan mereka boleh mulai bergerak untuk mengumpulkan sebanyak mungkin uang. Orang-orang jenis inilah yang kadang kurang hati-hati membuat keputusan lantaran birahi mengejar keuntungan yang terlalu tinggi.

Tetapi, banyak juga investor properti yang menunggu segala sesuatunya hingga sempurna, barulah mereka memulai. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk berinvestasi, menunggu hingga datangnya unit properti yang tepat, kondisi ekonomi yang memberikan suku bunga yang rendah; dan ini berarti mereka sama sekali tidak memulainya alias stuck.

2. Rasa takut

Rasa takut kadang membuat kita tidak mampu mendapatkan apa yang kita inginkan, apalagi jika itu berkaitan dengan keputusan yang melibatkan sejumlah uang. Tidak usah khawatir, Anda bisa menghitung berapa lama waktu yang menghindari Anda mengambil keputusan dan Anda akan menemukan berapa banyak Anda kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan finansial. Dalam hal properti, ketakutan menyebabkan banyak investor yang gagal.

Sebagian takut untuk membuka pinjaman, ada yang takut gagal membayar cicilan dan yang lebih tinggi lagi skalanya adalahnya ketakutan jangan sampai investasi mereka gagal. Bisa karena soal kondisi pasar maupun gejolak ekonomi.

Investor properti yang sukses bukannya tidak punua rasa khawatir gagal. Mereka punya, tetapi  ketakutan itu berhasil dikonversikan menjadi hal yang positif, tidak fokus ke negatif. Mereka lantas melakukan tindakan yang positif.

Salah satu cara untuk mengalahkan rasa takut ialah memperkuat motivasi untuk memiliki kemandirian finansial dengan tindakan konkrit berinvestasi properti. Karena properti dimana pun adalah sebuah pintu masuk ke dalam dunia baru dimana Anda bisa mengalami apa yang disebut sebagai kebebasan finansial.

3. Menunggu hingga lebih paham dan yakin

Ketakutan karena kurangnya pengetahuan mengenai apa yang hendak diinvestasikan membuat banyak investor gagal untuk membuat sebuah keputusan. Sayangnya seringkali ironi yang hadir di hadapan kita, semakin banyak yang Anda pelajari, semakin banyak pula yang Anda tidak ketahui.

Sekali saja Anda belajar tentang hal-hal mendasar dari konsep investasi, maka Anda akan segera menyadari bahwa sesungguhnya ada banyak hal dalam investasi properti yang tidak Anda pahami.

Yang menjadi kunci dalam kondisi seperti ini adalah, investasikan apa yang Anda punya sekarang ke dalam properti,  dan biarkan pelajaran dan pengetahuan akan investasi properti itu datang selama perjalanan Anda berinvestasi di sektor ini.

4. Lebih fokus pada penghasilan reguler, bukan penghasilan pasif

Adalah penting untuk menyadari bahwa tidak semua pendapatan diciptakan sama. Beberapa aliran yang linear dan beberapa yang pasif. Pendapatan linier adalah apa yang Anda dapatkan dari pekerjaan. Anda bekerja selama satu jam dan dibayar sekali untuk pekerjaan pada  jam itu, dan hanya itu. Jika Anda tidak masuk kantor untuk bekerja Anda tidak dibayar.

Pendapatan pasif adalah ketika Anda bekerja sekali tapi Anda terus dibayar lagi dan lagi dari pekerjaan Anda sekalipun Anda tidak lagi melakukan. Cara untuk menjadi kaya adalah memiliki penghasilan pasif. Bukankah lebih baik harus dibayar ratusan kali untuk setiap jam Anda bekerja?

5. Tidak menggunakan sistim untuk menghasilkan uang

Sebuah sistem untuk menghasilkan uang adalah sesuatu keputusan investasi yang membutuhkan emosi untuk menciptakan hasil yang reproduktif.  Sistem yang terbaik adalah berinvestasi di properti yang pertumbuhannya tinggi. Berinvestasi properti di area yang memiliki pertumbuhan tinggi atau yang sedang melewati siklus perkembangan yang luar biasa.

Seseorang bisa membeli properti di bawah biaya penggantian dan kemudian menambahkan nilai properti itu melalui renovasi atau pembangunan kembali. Orang jarang menjual properti tersebut melainkan meminjam ke bank dengan menggunakan agunan properti milik yang ada, yang telah mengalami peningkatan nilai.

Dengan sistim di atas, uang mulai bekerja dan terus memberi hasil investasi “pasif” dalam bentuk pertumbuhan modal dan sewa kembali. Alih-alih mendapatkan pekerjaan lain, orang-orang kaya tahu bahwa mereka perlu menginvestasikan uangnya agar uang dapat bekerja dan menghasilkan untuk mereka.

7. Ketidaksabaran

Warren Buffet pernah berkata: “Kekayaan adalah transfer uang dari orang yang tidak sabar untuk orang yang sabar.”
Untuk menjadi investor properti yang sukses membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Anda tidak hanya harus memulai, tetapi Anda harus melanjutkan dan menindaklanjuti. Properti residensial merupakan investasi jangka panjang. Ini bukan skema untuk menjadi kaya secara cepat. Namun banyak investor cenderung berspekulasi daripada berinvestasi. (Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.