December 6, 2022
Tax Amnesty akan berampak positif bagi sektor properti
Tax Amnesty akan berampak bagi sektor properti dalam beberapa tahun ke depan

WARTAPROPERTI.COM | UU Tax Amnesty atau pengampunan pajak kini sedang disosialisasikan oleh pemerintah maupun anggota DPR kepada masyarakat. Dengan pemberlakuan regulasi terbaru ini, para pelaku bisnis properti pun semakin optimis akan mendapatkan imbas positif. Pasalnya, dari 11.000-an triliun uang pengusaha Indonesia yang parkir di luar negeri itu, sektor properti diperkirakan akan mendapatkan proporsi yang signifikan mengingat prospek pertumbuhan nilai investasi di sektor ini masih sangat tinggi. Optimisme sejumlah pihak akan semakin dekatnya Indonesia kepada kebangkitan industri properti nasional pun membuncah.

Chairman Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak mengatakan, dampak ril aturan ini dengan mengalirnya dana orang kaya dari luar negeri ke dalam sektor properti nasional, baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. Karena menurut dia, proses mulai dari pengampunan pajakĀ  hingga tindakan re-invest oleh orang-orang kaya tersebut tidak berlangsung dalam sekejap, butuh waktu. Kendati demikian pemberlakuan aturan ini tetap menjadi kabar baik bagi properti nasional.

“Paling tidak, sentimen positif pasar yang muncul dengan diberlakukan aturan ini pada semester kedua tahun ini akan memberikan energi tersendiri bagi pasar dan meski sebatas sentimen, hal ini sangat berarti bagi kondisi pasar yang tengah melaju lambat seperti ini.”

Terkait berapa besar kapitalisasi dana yang akan membanjiri sektor properti, CUDES meyakini bahwa prosentase-nya cukup signifikan jika dilihat dari posisi properti sebagai instrument investasi jangka panjang yang paling aman dengan kenaikan nilai yang terus meningkat tinggi. “Tentu saja, capital in-flow ini akan melirik sektor-sektor yang aman dan bernilai tinggi di masa depan sebagai target investasi mereka dan properti adalah satu yang paling aman dan berpotensi meningkat berkali-kali lipat pada masa depan,” tegas pria yang juga senior editor properti nasional ini.

Lamak juga menambahkan, pemerintah hingga saat ini pun belum dapat memastikan berapa sesungguhnya potensi dana orang kaya yang ‘diparkir’ di luar negeri. “Potensinya kan lebih besar dari PDB kita, di atas Rp 11.000-an triliun dan itu kan masih menggunakan adalah data lama ketika kurs masih Rp2.000 per US $, sekira 20 tahun lalu. Nah, bagaimana jika saat ini kurs-nya sudah melambung melampaui Rp13.000? Sederhananya saja, sudah melonjak 6 kali lipat bukan? Anda bayangkan saja, 10%-nya atau equivalen dengan Rp6 triliun masuk ke sektor properti, maka gerbong properti nasional bisa melesat lagi bukan?”

Selain itu, CUDES juga melihat dampak luar biasa yang akan ditimbulkan oleh aturan ini pada perekonomian secara makro. Dengan semakin tingginya distribusi uang di masyarakat, daya beli publik pun akan lebih tinggi dan ini akan mendongkrak daya beli properti masyarakat. “Dari sisi indirect impat pun pasar properti mendapatkan dampak yang signifikan. Bayangkan kalau daya beli masyarakat terdongkrak, tingkat penyerapan produk properti pun menjadi lebih tinggi bukan?,” tegas Lamak. (YMR/Foto: Kontan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.