December 6, 2022
Panangian Simanungkalit (pakar properti nasional) dan Ferdinand Lamak (CUDES)
Panangian Simanungkalit (pakar properti nasional) dan Ferdinand Lamak (CUDES)

WARTAPROPERTI.COM | Panangian Simanungkalit, pengamat properti nasional mengamini akan adanya dampak dari pengampunan pajak atau tax amnesty kepada sektor properti nasional. Namun ia mengingatkan agar pelaku properti jangan tergesa-gesa berharap bahwa efek dari kebijakan ini terhadap sektor properti langsung bisa dirasakan dalam waktu dekat. Efek dari tax amnesty baru akan terada tahun depan. Sependapat dengan itu, lembaga riset Center for Urban Development Studies (CUDES) pun menyampaikan hal yang sama.

Ada beberapa tahap yang harus dilewati oleh investor pemilik modal yang akan mengalihkan dana mereka dari luar negeri untuk masuk ke pasar lokal. “Investor harus bisa memastikan apakah pasar sedang bertumbuhn atau stagnan. Lalu mereka juga harus mempelajari, jenis properti apa yang cocok untuk investasi, apakah rumah, kantor, apartemen atau lahan. Pembeli properti akan melihat dulu jenis dan pasar properti, dan itu butuh waktu,” jelas Panangian kepada wartaproperti.com di Jakarta hari ini (09/08/2016).

Senada dengan sang guru, Ferdinand Lamak dari CUDES kepada media ini mengatakan, dampak ril aturan ini dengan mengalirnya dana orang kaya dari luar negeri ke dalam sektor properti nasional, baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. Karena menurut dia, proses mulai dari pengampunan pajak  hingga tindakan re-invest oleh orang-orang kaya tersebut tidak berlangsung dalam sekejap, butuh waktu. “Kendati demikian pemberlakuan aturan ini tetap menjadi kabar baik bagi properti nasional.”

Baca juga: CUDES: Dampak Tax Amnesty Bagi Sektor Properti Nasional

Namun, Lamak juga mengingatkan agar pasar perlu memperhatikan dampak lain yang akan muncul dari distribusi dana yang masif di sektor properti yang bersumber dari dana repatriasi itu. Pemerintah bisa saja mengeluarkan kebijakan baru di sektor fiskal sebagai konsekwensi susulan atas pasar yang semakin cair.

“Apalagi sebagaimana yang kita ketahui pemerintah mematok target penerimaan dari sektor pajak yang sangat tinggi. Tahun 2016 saja, target penerimaan pajak kita tahun ini sekitar Rp1.300-an triliun, naik sekira Rp100-an trilun dari target tahun lalu. Ini bisa kita lihat dari target penerimaan pajak tahun 2017/2018, jika meningkat signifikan maka patut dikhawatirkan akan ada deregulasi perpajakan di sektor properti yang tentu saja akan memberatkan industri,” ungkap dia mengingatkan.

CUDES pun mengingatkan agar jangan sampai dampak positif tax amnesty dimana ada capital inflight yang tinggi ke sektor properti ini membuat para pengembang menjadi oportunis dengan memainkan harga properti semau mereka. “Sebagaimana yang pernah diingatkan oleh sejumlah pihak, jangan sampai terjadi lonjakan harga properti yang didrive oleh pengembang memanfaatkan tingginya permintaan. Jika sampai ini terjadi maka rakyat yang belum punya rumah semakin sulit untuk mendapatkan hunian yang layak,” cetusnya. (HH/Foto: MBP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.