December 3, 2022
Antrian kendaraan di pintu rel kereta
Antrian kendaraan di pintu rel kereta

WARTAPROPERTI.COM | Center for Urban Development Studies (CUDES) menilai, penetapan kenaikan tarif KRL Jabodetabek yang diumumkan oleh pemerintah kemarin, (18/08/2016) adalah sebuah tambahan beban bagi masyarakat pengguna moda transportasi umum. Keputusan ini harus dikompensasikan secara ril dalamĀ  tindakan yang ril, terutama peningkatan layanan yang diberikan bagi publik pengguna KRL. Jika tidak maka, tambahan pendapatan PT Kereta Commuter Line Jakarta (KCJ) yang diperkirakan mencapai Rp1,8 miliar per hari atau sekira Rp40 miliar per bulan itu, nihil manfaatnya bagi rakyat.

“Rp1.000 mungkin tidak besar per pengguna, tetapi coba kalikan dengan total manusia yang diangkut per hari mencapai 900.000 orang per hari. Nah, katakanlah per hari jumlah itu dikalikan dua karena pergi-pulang, totalnya bisa Rp1,8 miliar kan? Kalikan saja lagi dengan 25 hari kerja, atau 20 hari kerja, per bulannya bisa sekitar Rp30-an miliar kan? Ini bukan angka yang kecil,” ungkap Chairman CUDES Ferdinand Lamak, di Jakarta, hari ini (19/08/2016).

CUDES mengapresiasi langkah pengembangan yang dilakukan oleh KCJ yang telah siap menambah armada KRL dimana 30 KRL dari total 60 yang direncanakan akan menambah armada yang sudah ada pada 2016 ini, kini sudah berada di Indonesia dan siap dioperasikan. Hanya saja, CUDES mengingatkan kepada pemerintah dalam hal ini kementerian perhubungan maupun PT KCJ dan PT KAI, peningkatan pelayanan tidak hanya ditujukan kepada para pengguna moda angkutan ini saja.

“Pemerintah dalam hal ini kementerian pekerjaan umum, kementerian perhubungan dan PT KAI harus memikirkan dampak susula yang ditimbulkan dengan semakin bertambahnya armada KRL ini. Bayangkan saja jika setiap 3 menit KRL melintas, apa jadinya kemacetan yang melanda pintu-pintu rel kereta api, khususnya di kawasan yang padat lalu lintas. Pengguna moda transportasi lain pun harus dipikirkan kepentingan mereka,” ujar Lamak.

CUDES dalam field research-nya yang dilakukan pada periode April-Mei 2016 di 20 pintu rel yang tersebar di Jabodetabek untuk menghitung dari dekat tingkat antrian kendaraan terlama di pintu rel pada jam-jam sibuk yakni pukul 07.00 – 10.00 dan pukul 16.00 – 19.00. Hasilnya, di beberapa pintu rel terutama yang berdekatan dengan stasiun kereta, tingkat antrian pada jam tertentu bisa mencapai 45 menit!

“Bayangkan, itu yang terjadi selama ini dengan jumlah perjalanan yang ada. Bagaimana jadinya jika ada penambahan 60 unit yang akan masuk 2016 ini, sudah pasti waktu antrian kendaraan di pintu rel akan semakin lama dan ini sama dengan mematikan tikus dengan membakar lumbung padi.”

Oleh karena itu, dengan potensi peningkatan jumlah penumpang yang diperkirakan bisa melampaui 900.000 dalam tahun ini, CUDES mendesak pemerintah untuk lebih cepat merealisasikan pembangunan double track. Selain itu, lembaga ini sudah melakukan identifikasi titik-titik kantong kemacetan yang perlu diatasi segera dengan pembangunan under pass atau fly over.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.