December 6, 2022

First time home buyer kurang diprioritaskan developer, ketimbang investor

WARTAPROPERTI.COM | Hasil survei paling mutakhir berkaitan dengan tren pasar properti di Indonesia menyebutkan bahwa terjadi anomali dalam orientasi pengembang properti di Indonesia. Berdasarkan hasil survei Tren Konsumen Properti di Indonesia oleh Rumah123.com, sebanyak 40% pembeli properti di Indonesia merupakan pembeli rumah pertama atau first time home buyer. Sedangkan investor hanya 12%. Namun, pengembang justru lebih mengedepankan investor sebagai target utama penyerap produk properti mereka.

Menanggapi hasil survei itu, Chairman Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak mengatakan bahwa seperti inilah gambaran tentang wajah properti di Indonesia yang sesungguhnya. Demand yang mendrive pasar dan membuat properti moncer beberapa tahun silam, sesungguhnya bukan demand yang solid karena bukan berasal dari end user.

“Karakteristik investor kan hit and run dan selama ini harga pasar properti di Indonesia sangat ditentukan oleh elemen ini. Bayangkan saja kalau investor yang menjadi price maker dari properti di Indonesia. Nah, pembuktian lain yang bisa dijadikan parameter adalah, sensitifitas pasar terhadap isu dan atmosfir pasar. Pada demand yang solid, konsumen punya logika tersendiri ketika hendak membeli properti. Sedangkan investor sangat sensitif sebagaimana kalangan developer,” ungkap Lamak yang mantan chief editor Rumah123.com ini.

CUDES mengatakan, trik pemasaran properti menggunakan NUP yang marak akhir-akhir ini adalah salah satu pembuktian bahwa developer dan properti agen berusaha mendrive pasar melalui penciptaan sentimen tertentu terhadap satu proyek. Sebagai sebuah strategi pemasaran, hal ini lumrah untuk dilakukan. Namun, untuk menakar seberapa tinggi tingkat permintaan riil atas sebuah produk properti, metode ini sulit untukĀ  memberikan gambaran yang ril.

“Pola penjualan dengan menggunakan NUP bisa dikatakan sebagai inhouse selling karena para pembeli mayoritas adalah investor yang datang dari lingkaran itu-itu juga. Misalnya saja, ada developer yang hendak meluncurkan produknya di Bekasi, maka para agen akan memboyong investor mereka dari berbagai penjuru Jabodetabek untuk memborong properti tersebut. Real buyer tidak lebih dari 15% dari total penjualan perdana yang akhir-akhir ini digelar dengan sistim NUP. Tentu saja, pembeli dari kalangan first time home buyer jumlahnya hanya segelintir saja,” tegas Lamak.

Lamak menilai, pasar properti di Indonesia pada segmen menengah dan menengah atas masih disesaki oleh investor properti dengan karakteristik spekulatif dalam jangka pendek. Bukan pula long term investors. Untuk dapat melihat bagaimana kondisi pasar yang sesungguhnya, segmen menengah ke bawah yang lebih valid untuk dijadikan ukuran karena di segmen ini, demand lebih solid. (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.