December 3, 2022

Kereta cepat Jepang

WARTAPROPERTI.COM | Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan kereta kencang Jakarta-Surabaya akan segera dimulai. Pihak Jepang nantinya akan terlibat dalam proses studi tersebut.  Tadashi Maeda, CEO Japan Bank for Internasional Cooperation (JBIC) menilai dengan posisi Jakarta-Surabaya berjarak 800 km, seharusnya waktu tempuh yang dibutuhkan maksimal adalah selama empat jam.

“Kebetulan 800 km pas harus 4 jam, jadi bagi penumpang kereta itu dimungkinkan,” terang Maeda di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Bila lebih dari empat jam, maka masyarakat akan lebih memilih pesawat. Untuk kecepatannya dimungkinkan sekitar 180-200 km per jam, lebih rendah dari kereta Jakarta-Bandung yang juga akan dibangun.

“Jadi sebetulnya penumpang memilih kereta atau pesawat batasnya 4 jam, kalau lebih dari itu jarak tempuhnya, biasanya orang akan memilih pesawat,” jelas Maeda.

Sementara itu, berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia, rencana kereta kencang ini akan memanfaatkan rel kereta api yang sudah ada. “Sebenarnya masih terlalu dini, masih tahap awal. Kita baru melakukan studi kelayakan dan kami juga baru mengetahui jalurnya memanfaatkan yang ada dan perlu direhabilitasi,” ujar Tadashi Maeda.

Bandingkan dengan rencana kereta cepat JKT-BDG juga harus membangun rel baru, tidak seperti proyek ini. “Ini kereta cepat tapi tidak cepat seperti yang diberitakan. Kalau kereta cepat itu kecepatannya 320 km per jam, mungkin kecepatannya menengah 180-200 km per jam,” ujarnya.

Menurut Maeda, memang sebaiknya tidak ada lagi persimpangan yang menghambat laju kereta. Ini akan dikaji sebelum proyek dimulai.

“Dalam hal ini pun di beberapa titik di jalur itu ada persimpangan, dan kalau memang kereta cepat tidak boleh ada persimpangan dengan kendaraan, maka bagaimana cara mengubah jalur yang sudah ada harus ada studi kelayakan, maka memang harus melihat ke depan,” papar Maeda. (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.