December 6, 2022

Hasil tax amnesty periode pertama jadi bekal optimisme untuk dua tahap berikutnya

WARTAPROPERTI.COM | Pemerintah Indonesia hanya dapat menggiring masuknya dana milik orang Indonesia di luar negeri ke Indonesia sebesar Rp137 triliun. Angka ini masih jauh dari nilai yang ditargetkan pada awal tax amnesty dicanangkan yakni Rp1.000 triliun. Hingga periode pertama tax amnesty berakhir di Jumat (30/9/2016), total dana repatriasi alias dibawa pulang ke Indonesia hanya sekira 13% dari yang ditargetkan. Lantas, apakah masuknya aliran dana ini berdampak ke sektor properti?

Head of Advisory Jones Lang Lasalle Indonesia Vivin Harsanto mengungkapkan, dampak dari tax amnesty belum bisa dirasakan sekarang. Bahkan untuk ditaksir, akankah angka ini signifikan untuk dapat mengakselerasi pertumbuhan sektor properti pun belum bisa. Menurut dia, butuh waktu bagi sektor properti untuk memperoleh dampak dari aliran dana repatriasi tersebut. Ini karena investor perlu mempertimbangkan beberapa faktor, misalnya soal properti yang bagus, pengembang dengan reputasi baik, dan potensi kenaikan yield yang menarik.

“Kita belum bisa mengukur berapa persennya. Tapi kalau aktivitas mulai ada, mungkin kita baru bisa memperkirakan akhir tahun karena kan jilid 1 baru selesai jadi baru ada pergerakan akhir tahun. Jadi baru bisa perkirakan tahun depan perkiraannya berapa. Dampaknya sendiri akan terasa di kuartal I atau II tahun depan,” ujar dia dalam media briefing di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Sementara itu, Ferdinand Lamak dari Center for Urban Development and Studies (CUDES) sebagaimana pernah ditulis media ini mengatakan, bahkan hingga awal tahun depan pun dampak ke sektor properti belum dapat dirasakan secara signifikan. Pasalnya, sejumlah elemen makroekonomi di era Joko Widodo khususnya tahun 2017 ini masih membutuhkan aliran dana dari program tax amnesty ini.

“Realisasi penerimaan pajak dari tax amnesty ini hanya Rp97,15 triliun hanya 50% dari target, sedangkan arus dana masuk dari repatriasi hanya Rp137 triliun. Sementara itu di dalam pos penerimaan APBN 2016 sendiri ditargetkan Rp165 triliun dana dari tax amnesty,” ungkap Lamak.

Menurut Lamak, pemerintah memag masih memiliki kesempatan untuk mencatatkan penerimaan pajak di tahun depan dalam periode 2 dan 3 tax amnesty dengan demikian, hentakan dana repatriasi yang masuk pada periode pertama ini nyaris belum terasa. “Seperti yang pernah disampaikan CUDES pada awal pelaksanaan tax amnesty ini, setidaknya pencapaian periode pertama ini bisa membuat pasar menjadi lebih optimis, pengembang properti menjadi lebih yakin akan bergeliatnya permintaan karena optimisme akan masuknya dana repatriasi yang lebih tinggi lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, jika dilihat dari daya tarik properti lokal, harga properti di Indonesia sendiri masih lebih murah dibanding Singapura sehingga menyimpan potensi pertumbuhan yang tinggi. Namun mengenai pendapatannya apakah juga akan tinggi, masih menjadi pertimbangan bagi para investor.

“Support perkembangan dengan tax amnesty sendiri sudah menjadi pembicaraan awal tahun hingga tiga kuartal pertama (2016). Masih banyak orang wait dan see untuk membeli. Memilih properti harus hati-hati, banyak hal yang harus dipertimbangkan,” ujar Vivin Harsanto lagi.

Pada tahun depan, diprediksi akan banyak pengembang yang mulai percaya diri membangun produk baru. Selain itu, beberapa kebijakan pemerintah seperti penurunan suku bunga acuan, pelonggaran LTV hingga mulai adanya perbaikan ekonomi dalam negeri membuat pasar properti juga akan bergairah pada tahun depan.

Hal ini menurutnya akan membuat supply yang berlebih akan disambut oleh demand yang akan naik.

“Kalau dilihat dari chart, demand akan membaik pada waktu mendatang. Tapi memang supply yang masuk agak banyak. Jadi butuh waktu untuk menyerap supply yang masuk di kuartal tersebut. Jadi bukan berarti market-nya itu nggak ada demand. Demand ada, tapi supply berlebih,” tutur Harsanto. (HH/FOTO:IST)

Leave a Reply

Your email address will not be published.