November 29, 2022

Pertumbuhan properti tahun 2017

WARTAPROPERTI.COM | Sinyal lemah perekonomian negara-negara berkembang nampaknya akan terus berlanjut hingga 2017. Demikian pesan yang mengemuka pada APEC Summit 2016 yang telah berakhir di Lima, Peru pada Minggu (20/11/2016). Managing Director IMF, Christine Lagarde, mewanti-wanti para kepala negara ini bahwa ekonomi dunia masih akan melambat tak hanya di tahun ini tapi sampai tahun depan. Semua negara harus bersiap-siap dengan memperbaiki atau mereformasi ekonomi masing-masing. Menggenjot permintaan dalam negeri bisa menjadi satu pilihan.

Menanggapi sinyal ini, Center for Urban Development Studies (CUDES) mengingatkan sektor properti di Indonesia agar benar-benar berhitung dalam merancang strategis bisnis pada tahun 2017 nanti. Optimisme pelaku yang berlebihan akan menyebabkan keterpurukan yang lebih dalam dan membuat pergerakan properti semakin melambat.

Business as usual, harus optimis tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga karena fundamental semua sektor ada pada indikator makroekonomi. Saya melihat semua prediksi mengatakan bahwa 2017 properti akan rissing, tanpa ada yang menggarisbawahi indikator makroekonomi sebagai prasyarat dari pertumbuhan semua sektor industri di Indonesia,” ungkap Ferdinand Lamak, Chairman CUDES di Jakarta hari ini (22/11/2016).

Lamak mengungkapkan, industri properti harus belajar dari pengalaman 3 tahun belakangan dimana setiap menjelang akhir tahun, banyak pihak yang mengeluarkan prediksi dengan nada yang sama, yakni optimis. Sayangnya, prediksi ini kurang memperhitungkan faktor makroekonomi yang akan terjadi.

“Hari ini banyak pihak yang mengutarakan optimisme dengan adanya dana hasil pengampunan pajak terutama dana repatriasi. Pertanyannya, seberapa banyak yang akan mengucur ke properti dan apakah itu akan terjadi serta merta di tengah kondisi pasar yang masih seperti ini?,” ungkap Lamak.

Menurut dia, dalam prediksi pertumbuhan ekonomi nasional yang menjadi acuan penyusunan APBN 2017 saja pemerintah menurunkan targetnya dari angka 5,5% menjadi hanya 5,1%. Itu pun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi global di angka 3,1%. “Nah, bagaimana kalau di APEC kemarin pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2017 hanya bergerak di angka 3,0% saja?”

Lamak menguraikan bahwa selama ini perbincangan seputar prospek dan tantangan industri properti hanya membahas faktor-faktor mikro. Publik dan pelaku industri cenderung menomorduakan indikator makro. “Padahal bicara soal suku bunga KPR, tentu tidak akan terlepas dari parameter suku bunga BI. Nah, suku bunga BI ini juga tidak akan terlepas dari indikator lain seperti tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi di sisi yang lain.”

Oleh karena itu, CUDES mengingatkan agar sektor properti lebih berhati-hati dalam melihat prospek pertumbuhan industri 2017. Pengembang pun harus lebih taktis agar tidak terjerembab dalam kondisi yang lebih berat di tahun depan. (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.