December 3, 2022

Bangunan roboh akibat gempa bumi di Aceh

WARTAPROPERTI.COM | Hingga sepuluh hari sejak pertama kali gempa bumi mengguncang Aceh yakni 7 Desember 2016 silam, getaran gempa masih terasa. Otoritas bencana alam nasional mencatat, sudah terjadi sekira 120 kali gempa bumi susulan sejak tanggal itu hingga Sabtu (17/12/2016). Kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa bumi ini pun telah terdata oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BNPB mencatat, kerusakan bangunan karena terdampak gempa terjadi pada sedikitnya 65 masjid, 160 meunasah, 357 ruko, 30 kantor pemerintahan, 139 sekolah, 11 pasar, 83 jembatan, dan 88,5 kilometer jalan.

Melihat banyaknya angka dan tingginya tingkat kerusakan ini, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho membeberkan penyebab banyaknya bangunan akibat gempa di Aceh. Menurut dia, kerusakan bangunan baik pasar, rumah, masjid maupun lainnya terjadi karena banyak faktor, di antaranya adalah struktur bangunan yang salah, besi bangunan yang tidak memenuhi standar dan  tidak ada tulangan geser.

Sebelumnya, Sutarji dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengatakan, faktor kualitas mutu bangunan juga menjadi faktor banyak bangunan yang roboh pada kejadian gempa tersebut.

Bangunan masjid yang roboh, lanjut Sutopo, setelah diinspeksi terjadi karena beban kubah yang sangat berat yang tidak ditopang dengan pondasi yang baik. Getaran gempa mengakibatkan fondasi yang ada tidak mampu menahan kubah dan berakibat robohnya bangunan masjid.

Begitu pula dengan konsep rumah tumbuh. Sutopo menyebutkan, fondasi dan tulangan yang di desain untuk satu tingkat, ternyata dikembangkan oleh masyarakat hingga dua sampai tiga tingkat. Sayangnya, beban tersebut tidak mampu ditopang oleh konstruksi yang dibangun. “Percepatan getaran gempa yang telah diukur dan dianalisis oleh BMKG membuktikan bahwa, percepatan maksimal terjadi pada bangunan 2-3 lantai,” ujarnya.

Sutopo mengatakan, izin pendirian bangunan yang tahan gempa perlu mendapat perhatian khusus agar dampak dan korban jika terjadi gempa dapat diminimalisasi.

Dari segi geologi lokasi gempa, sebagian besar adalah sedimen pasir. Sehingga ketika terjadi gempa, pasir memadat menekan air dan air menekan balik sehingga keluar lah lumpur pada rekahan gempa seperti yang terjadi di beberapa tempat di Aceh.

“Korban bukan disebabkan gempa bumi. Tapi disebabkan bangunan yang roboh tidak mampu merespons getaran gempa,” kata Sutopo.

Berdasarkan informasi dari ahli gempa bumi asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Wahyu Triyoso, periode ulangan gempa akan berlangsung sangat lama. Meski begitu, gempa-gempa kecil masih mungkin tetap terjadi. (HH/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.