November 29, 2022

Pertumbuhan properti tahun 2017

WARTAPROPERTI.COM | Memasuki tahun 2017, sejumput optimisme pun tumbuh di sektor properti. Semua pihak berharap kondisi pasar properti pada tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Center for Urban Development Studies (CUDES) menilai, tekanan yang terjadi pada pasar properti sejak 2014 hingga 2016 kemarin adalah sebuah anomali lantaran tidak merefleksikan bagaimana perekonomian nasional secara umum. Tekanan yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor psikologis pasar yang terjadi secara sistimatis mulai dari suprastruktur hingga end-user.

“Memasuki tahun 2017, harusnya pasar tidak lagi berada di dalam tekanan seperti periode 2015-2016 kemarin karena semua indikator makroekonomi tidak mengalami perubahan yang signifikan. Target pertumbuhan ekonomi dipatok 5,1%, tidak terpaut jauh dari tahun 2016. Sementara tahun 2016 inflasi tercatat lebih rendah dari perkiraan pemerintah yakni hanya 3%. Sementara DPK di perbankan meningkat sekitar 8% sepanjang 2016. Tingkat pengangguran ditargetkan akan diturunkan hingga 5,7%, sementara tingkat suku bunga BI cenderung stabil di angka 6-6,5%,” demikian papar Ferdinand Lamak, Chairman CUDES di Jakarta hari ini.

Dalam pandangan CUDES, pasar properti 2016 masih menyisakan kegamangan pasar yang terjadi sepanjang 2015 sehingga tidak kuasa untuk bangkit. Tahun 2015 menutur lembaga ini menjadi periode paling ironis bagi sektor properti karena psikologi pasar dibuat tidak menentu oleh regulator.

“Kalau Anda masih ingat, awal 2015 masing-masing menteri yang menempati pos-pos penting dan berkaitan erat dengan properti, melemparkan wacana sesuka hati mereka. Menteri Pertanahan dan Tata Ruang / Agraria melemparkan wacana soal penyesuaian NJOP, belum lagi Menkeu bicara dimana-mana soal deregulasi tentang PPn BM untuk rumah mewah. Ini kesalahan paling fatal pemerintah yang menimbulkan deg-degan para developer properti ketika itu,” papar Lamak.

Menurut CUDES, tahun 2017 seharusnya disongsong oleh pengembang dengan optimisme yang lebih tinggi karena kepastian hukum di negeri ini sudah lebih baik dengan adanya sejumlah paket kebijakan ekonomi beberapa waktu lalu yang pro pasar.

“Jangan lupa, pasar properti di Indonesia masih di-drive oleh supply dalam hal ini developer properti dan jika pelaku industri sudah dibalut sentimen negatif, pasar di level end-user akan lebih sentimental lagi. Sekalipun dari tingkat demand, potensi pasar Indonesia masih sangat tinggi.”

Tahun 2017 menjadi tonggak recovery sektor properti dan pemerintah sudah menjalankan bagiannya. Baik dari kebijakan yang mulai kondusif bagi pasar seperti deregulasi loan to value, suku bunga KPR perbankan yang relatif stabil, sejumlah insentif pajak seperti BPHTB.

“Yang ini kosmetik tetapi tidak kalah penting untuk membangun optimisme pasar. Tengok progress pengerjaan proyek infrastruktur yang dikerjakan pemerintah selama 2 tahun belakangan. LRT, MRT, Tol Becakayu, proses pembebasan lahan untuk sejumlah ruas tol yang menampakan progres signifikan. Tidak ada satupun alasan untuk tidak optimis menghadapi pasar di tahun 2017 ini.” cetus Lamak. (AS/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.