December 3, 2022

Matriks Transit Oriented Development Approach

WARTAPROPERTI.COM | Masalah kepadatan penduduk dan tingkat kemacetan lalu lintas di kota besar seperti Jakarta dan kota-kota penyangga di kawasan suburbs akan menciptakan kebutuhan yang tinggi pada hunian yang nyaman dan praktis dari sisi transpotasi. Implementasi transit oriented development (TOD) yang mulai dijalankan oleh sejumlah pengembang belakangan ini akan menjadi jawaban atas kebutuhan itu. Diperkirakan dalam 5-10 tahun kedepan, pasar hunian Jabodetabek akan mengarah kepada hunian-hunian yang dikembangkan dengan paradigma TOD.

“Pada tahun 2012, Kota Bintaro Jaya sudah memulai dengan konsep transit oriented development di dalam kawasannya yang mulai padat itu dengan menyediakan sistim transportasi terintegrasi antara feeder bus dengan dua stasiun commuterline yang berlokasi di dekat kawasan itu. Bahkan lebih dari itu, ketika itu mereka sudah berencana membuka koridor pedestrian untuk menghubungan area mixed-use yang densitas penghuninya diperkirakan akan tinggi menuju ke stasiun commuter line itu,” papar Ferdinand Lamak, Chairman CUDES di Jakarta hari ini (12/1/2017).

Dalam kajian CUDES, konsep TOD ini kemudian disadari menjadi kebutuhan dari sejumlah pengembang yang masih memiliki ruang untuk dapat mengimplementasikannya. Dicontohkan, pengembang kawasan Jababeka Residence yang teritegrasi dengan Jababeka Industrial Park di Cikarang, Jawa Barat pun sudah mulai mengarah pada implementasi TOD. Apalagi di kawasan ini, density of population sudah cukup tinggi terutama dari hunian-hunian generasi awal kawasan ini.

Menurut CUDES, TOD adalah sebuah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan hunian, koridor transit dan moda angkutan publik yang nyaman dan praktis. Ada sejumlah karakteristik dari konsep transit oriented development ini yakni: hunian mixed-use, kepadatan populasi penghuni, koneksi jalur pedestrian, opsi moda transportasi, minimalisir parkir dan desain kawasan yang baik.

“Warga kota dalam 5-10 tahun ke depan akan semakin tinggi tingkat stress-nya dengan masalah tingginya biaya bahan bakar, kemacetan lalu lintas, perubahan iklim, menyempitnya ukuran hunian karena keterbatasan space, melonjaknya permintaan akan hunian perkotaan yang nyaman dan aspek lingkungan yang semakin menjadi perhatian bersama. Ini akan menjadi pelatuk yang mendorong tingginya kebutuhan akan hunian dengan pendekatan TOD,” ungkap Lamak.

CUDES memandang positif kesadaran pihak Kereta Api Indonesia yang telah menyatakan akan mengembangkan sejumlah tower apartemen yang teritegrasi dengan 4 stasiun commuter line. Akan ada 4 stasiun yang menyediakan hunian bagi kaum komuter yakni Bogor, Depok, Pondok Cina dan Tanjung Barat.

“Tinggal diperhatikan agar desain dan pengembangan hunian berbasis TOD di keempat stasiun itu memberikan kenyamanan baik untuk para penghuni apartemen tersebut dengan publik pemakai moda transportasi kereta. Flow di stasiun harus diatur agar tidak malah jadi semrawut. Bayangkan saja jika kapasitas stasiun tidak ditingkatkan sementara pada saat yang sama tiba-tiba ada penambahan ribuan penumpang di satu titik seperti itu,” ungkap Lamak. (HH/Foto: Ist)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.