December 3, 2022

Liem Sioe Liong saat syukuran BCA Group pada tahun 1970-an

WARTAPROPERTI.COM | Anda mungkin lebih mengenal pribadi ini sebagai seorang developer ternama dengan kerajaan bisnis yang menjulang di negeri ini. Namun tahukah Anda jika ia berbeda dari sosok seperti Ir. Ciputra yang sedarimula sudah menggeluti dunia properti pasca lulus dari bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung. Dia sesungguhnya seorang praktisi perbankan yang piawai mengelola dan menahkodai akrobatiknya sebuah bank untuk melejit. Dan, tahukah Anda jika PT Bank Central Asia Tbk., yang pada hari ini menjadi bank swasta dengan jaringan terluas di Indonesia dan servis yang paling memuaskan adalah buah polesan tangannya sejak tahun 1976. Nah, siapakah pria dimaksud?

Setelah mengundurkan diri dari Panin Bank per 1 Mei 1975, suatu ketika pria ini bertemu dengan Liem Sioe Liong, pengusaha besar yang menguasai industri rokok karena menjadi perusahaan pengimpor cengkeh yang mendapatkan izin khusus dari pemerintah. Mochtar lalu menceritakan cita-citanya ingin mendirikan bank clearing house setelah 15 tahun berkecimpung dalam dunia perbankan.

Mereka berbicara panjang lebar dalam sebuah perjalanan selama 4 jam itu. Liem Sioe Liong pun tertarik dengan sosok ini hingga kemudian ia menawarkan kepada pria tadi bergabung dengan salah satu bank dari tiga bank miliknya. Kalau itu, Om Liem-demikian ia disapa, memiliki Bank Windu Kencana yang dipimpin adiknya Liem Sioe Kong, Bank Dewa Ruci yang dipimpin oleh adik sepupunya Liem Ban Tiong serta Bank Central Asia yang ketika itu sedang berada dalam kondisi kurang sehat.

Saat itu, 30% sahan BCA dikuasai oleh putra dan putri Soeharto, seoang pensiunan jenderal 10% dan Liem Sioe Liong tiga bersaudara 60%. Oleh Liem, pria ini ditawarkan untuk memiliki saham BCA sampai 17,5%. Dengan penuh keyakinan pria ini kemudian memilih BCA yang kala itu sudah menggunakan konsultan asing.

Langkah ia, pria ini membenahi SOP agar karyawan memahami tugasnya dengan mudah, efektif dan produktif. Dalam waktu 12 bulan SOP tersebut selesai dibuat. Sistem pengarsipan dibenahi bahkan guna menampung arsip BCA selama 15 tahun (1960-1974), diperlukan 180 kotak. Dan, dalam waktu 70 hari arsip tersebut sudah tersusun rapi dan tepat berdasarkan tanggal, bulan dan tahun yang kemudian dimasukkan kembali ke dalam 15 kotak besar yang berdasarkan urutan tahun kegiatan. Tak banyak konglomerat yang menguasai manajemen pengarsipan dan SOP ketika itu.

Pada tahun 1976, pria ini mulai menggunakan SOP di dalam lingkup BCA sebagai dasar informatisasi pekerjaan. Kepada seluruh jajaran bank itu, ia menyebutnya sebagai filsafat manajemen yang berdasarkan sistem. Di samping itu ada 2 lagi filsafat manajemen yang penting yaitu berdasarkan hati nurani yaitu filsafat keteladanan dari sang pemimpin yang menitikberatkan pada budi pekerti-moral etika dan mendidik karyawan agar punya kesadaran sendiri untuk melaksanakan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab dan berdasarkan faktor kemanusiaan.

Pria ini, dengan bekal 17,5% saham yang dimilikinya, ia benar-benar ingin menjadikan BCA sebagai bank kliring kedua setelah Bank Indonesia sehingga ia kemudian membuat rencana menambah jaringan BCA dan membidik empat bidang usaha yang sangat berpotensi, yaitu sandang (bidang tekstil yang dikelola oleh orang Hok Cia), pangan (pabrik rokok Gudang Garam dimiliki oleh orang Hok Cia bermarga Tjoa) dan papan (50% pengusaha industri bahan bangunan dikuasai oleh orang Hok Cia) serta angkutan (80% pengusaha suku cadang dikuasai oleh orang Putian), sebagai prime customer.

Saat mengelola BCA, pria ini menemukan kenyataan bahwa untuk transfer uang saja terkadang memakan waktu 40 hari untuk tiba di alamat yang dituju baik dekat maupun jauh. Ini mengakibatkan modal kerja pengusaha tertahan lama sehingga harga pokok menjadi tinggi. Ia pun ingin mempercepat transfer dana dengan cara membentuk unit kerja ekspedisi di setiap kantor cabang BCA yang bertugas mengantar data perintah pembayaran pengiriman uang dari satu cabang ke cabang lain dengan kereta api.

Dokumen tersebut disimpan di dalam tas besi dengan kunci dan segel yang rapi untuk menjamin keamanan dan keabsahan data perintah pembayaran. Maka setiap cabang bisa menerima tas besi tersebut dengan baik pada esok pagi harinya. Setelah dicocokkan dengan kode rahasia pada setiap pembayaran yang berada di dalam daftar, maka berdasarkan dokumen data transfer tersebut keesokan harinya data transfer sudah bisa dimasukkan ke rekening penerima.

Terobosan yang inovatif pada jaman tersebut mendapat sambutan baik dan hangat. Program ini dikenal sebagai “servis tranfer ekspres, tiba keesokan hari”. Hal ini sangat mendukung BCA menuju tingkat bank kliring. Program ini menggemparkan dan mendapat sambutan baik dari pelaku ekonomi yang berduyun-duyun menjadi nasabah BCA.

Masuknya nasabah baru disambut dengan berbagai program seperti Fasilitas Perkreditan Account Receivable untuk nasabah pengusaha pabrikan atau bagian hulu, sementara bagi pengusaha hilir (grosir dan eceran) diberikan fasilitas kredit Account Payable. BCA bertumbuh sangat pesat dan selain menjadi bank devisa, BCA telah menjadi jembatan bagi para pengusaha.

Lima tahun kemudian aset BCA berada di urutan keenam sebagai bank perdagangan dengan lima besar lainnya ditempatkan oleh bank milik negara.

Lantas, siapa pria dimaksud yang telah menyelamatkan BCA dari keterpurukan dan meletakan dasar inovasi hingga membuat kini BCA menjulang sebagai bank swasta nomor 1 di Indonesia? Ia adalah, Mochtar Riady, pendiri Lippo Group.

Ikuti terus kisahnya, bagaimana strateginya merebut Gudang Garam dan Univeler dari bank lain dan menjadi nasabah loyal BCA kala itu. (Manusia Ide/Foto: Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.