December 6, 2022

Ira Koesno dan Sarwono Kusumaatmadja

WARTAPROPERTI.COM | Minggu, 7 Mei 1998, Liputan 6 Siang di SCTV itu dipandu oleh presenter cantik yang kala itu sedang naik daun. Sebagaimana biasanya program ini menampilkan seorang narasumber untuk diajak berdiskusi tentang situasi politik ketika itu. Tamu siang itu adalah seorang mantan menteri yang juga petinggi Golkar yakni Sarwono Kusumaatmadja dan tema diskusi dalam program Liputan 6 siang itu adalah tentang rencana reshuffle kabinet di bawah Presiden Soeharto yang disampaikan oleh Bung Harmoko, Ketua Umum DPP Golkar yang juga Ketua MPR/DPR.

“Ya agak anehya, artinya itu (rushuffle-red) diumumkan oleh Ketua MPR/DPR yang enggak ada urusannya sama soal-soal seperti itu,” kata Sarwono menjawab pertanyaan pembuka adari Ira Koesno.

Diskusi pun berlanjut ketika Ira Koesno menanyakan apakah ada alasan yang cukup kuat bagi presiden untuk melakukan rencana reshuffle kabinet itu? Sarwono yang adalah adik kandung mantan Menteri Luar Negeri Kabinet Pembangunan IV Mochtar Kusumaatmadja itu pun menjawab dengan kalem.

“Saya rasa tentunya presiden maksudnya baik ya. Tapi dengan segala hormat saya terhadap beliau (presiden-red), dia terlambat begitu. Mungkin enggak ada gunanya, atau mungkin akan menciptakan problem lain yang lebih besar begitu.”

Kondisi ketika itu, kabinet baru berjalan 2 bulan sejak dilantik. Stabilitas perekonomian Indonesia mengalami masalah yang sangat serius. Moral para pemimpin drop karena semua indikator perekonomian ketika itu porak-poranda. Siapa yang berani melawan rejim Soeharto ketika itu?

Ira Koesno tersenyum ketika Sarwono mengatakan bahwa dirinya menggunakan kata sandi saja untuk menjawab pertanyaan Ira.

“Kita pakai analogi gigi lagi ya. Reshuffle itu tambah gigi. Sedangkan kita itu perlu cabut itu gigi supaya gigi baru itu bisa tumbuh. Jadi reformasi itu hanya bisa dilakukan kalau kita mengambil tindakan moral yaitu cabut gigi itu,” tegas Sarwono.

Ira ketika mendengar itu tersenyum tidak biasanya. Maklum saja, mengatakan ‘cabut gigi’ yang dipahami sebagai Soeharto harus turun dari kursi presiden adalah sebuah keberanian yang konyol seorang presenter.

Dalam sebuah meeting untuk merancang program untuk TV7 (sekarang Trans7-red) di kawasan Cipaku, Jakarta Selatan beberapa tahun silam, Ira memberikan sedikit bocoran bahwa ketika itu Liputan 6 kesulitan untuk mendapatkan narasumber yang mau berbicara tentang reshuffle. Sarwono dikontak dan ketika datang ke studio, ia mengatakan secara jujur bahwa dirinya tidak akan berbicara banyak tentang reshuffle kabinet.

Pihak SCTV khususnya Liputan 6 yang ketika itu digawangi oleh Sumitha Tobing, Riza Primadi dan Don Bosco Selamun pun khawatir jika dialog nanti terkesan terlalu ‘berhadap-hadapan’ dengan penguasa yang kala itu semua insan pers sudah paham, apa risikonya. Disepakatilah untuk menggunakan bahasa sandi.

“Tapi paling tidak, kriteria seperti apa yang..seperti pandangan ini, atau visi bapak seperti apa,” tampak Ira Koesno gigih berusaha untuk mengarahkan Sarwono untuk mendiskusikan soal reshuffle. Tampak ia agak kewalahan sehingga kalimatnya menjadi tidak teratur.

“Tambal gigi itu bukan jawabannya. Kita enggak usah diskusi tentang tambal menambal gigi itu. Satu-satunya tidakan adalah tindakan moral yaitu cabut gigi. Karena dia udah menjalarkan penyakitnya kemana-mana. Ya, sudah telat dan supaya gigi baru itu bisa tumbuh,” kekeuh Sarwono.

Ira tampak masih belum menyerah. Dirinya mencoba mengatakan bahwa reformasi harus dilakukan secara gradual. “Kalau misalnya reshuffle kabinet adalah salah satu tahapan yang harus kita lewati, kira-kira apa harapan bapak?”

“Jadi sekali lagi, prasyarat untuk reformasi itu sekali lagi dengan bahasa sandi, ya cabut itu gigi,” papar Sarwono.

Ira Koesno belum menyerah. Ia mencoba lagi dengan menurunkan sedikit tone dan ekspresinya ketika mengatakan bahwa toh pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah sebelum kerusuhan dan penembakan di kampus Trisakti itu terjadi kala itu.

“Dengan (sambil mengangkat kedua tangannya-red) segala maaf, mudah-mudahan saya salah ya… tapi kelihatannya terlambat,” ungkap Sarwono.

Ira menyentil soal reformasi yang konstitusional dan langsung disambar oleh Sarwono, ” Ya cabut gigi juga konstitusional. Apa saja yang baik untuk kesehatan bangsa ini ya konstitusional.”

Lagi-lagi Ira mencoba mengarahkan agar Sarwono bisa sedikit beranjak dari cabut gigi. Ia mengatakan, bagaimanapun sebagai bangsa semua harus optimis dengan proses reformasi.

“Betul. Kalau misalnya ada persiapan untuk cabut gigi saya akan optimis. Tapi kalau cuma tambal-tambal gigi, ya kasihan saja karena orang yang mencoba untuk menambal gigi itu kasihan, enggak ada gunanya.”

Sambung Sarwono lagi, “Saya optimis terhadap bangsa ini. Tetapi saya tidak optimis terhadap mereka yang ngurus bangsa ini.” Ira pun mengakhiri dialog itu.

SCTV kala itu masih dikuasai oleh Peter Gontha yang berkawan dekat dengan Bambang Trihatmodjo, putera Soeharto. Akibat tayangan itu, Ira pun diskors sebelum akhirnya berangkat ke Eropa untuk melanjutkan studinya.

Empat hari setelah wawancara Ira Koesno itu, Soeharto pun mengundurkan diri. (FL/Foto:Ist)

Leave a Reply

Your email address will not be published.