November 28, 2022

Mayorital milenials di Jakarta tidak mampu membeli rumah

WARTAPROPERTI.COM | Fenomena pertumbuhan angkatan kerja baru di Jakarta yang berasal dari kalangan muda atau yang disebut dengan kaum milenial, menjadi fenomena tersendiri bagiĀ  dunia perumahan dan permukiman di Jabodetabek. Menurut Chairman Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak, jomplangnya kenaikan penghasilan atau gaji milenial yang bekerja di sektor formal tidak sebanding dengan lonjakan harga rumah atau apartemen yang terjadi di pasar.

“Meminjam teori populasi Thomas Robert Malthus, gambarannya seperti ini, kenaikan gaji berdasarkan deret hitung, sementara kenaikan harga properti baik rumah atau apartemen menggunakan deret ukur. Gaji dalam setahun naiknya enggak sampai 10% sementara kenaikan harga properti bisa lebih dari 20% dalam setahun. Sampai kapanpun, harga properti tak akan terjangkau oleh penghasilan mereka,” ungkapnya di Jakarta, Sabtu (25/3/2017).

Portal listing properti Rumah123.com baru-baru ini dalam pemaparannya mengatakan, penghasilan milenial yang jumlahnya mencapai 2,8 juta orang itu, masih menumpuk di level bawah kelas menengah. Sebanyak 46% generasi milenial di Jakarta penghasilannya masih di bawah Rp 4 juta. Itu artinya mereka hanya mampu membeli rumah di harga Rp480 juta dengan nilai cicilan Rp1,3 juta.

Menurut Lamak, problem ini bukan hanya terjadi di Jakarta. Kota-kota lain di dunia yang lebih maju sudah mengalami ini.

“Di Amerika, membeli rumah bahkan sudah dianggap sebagai the old fashioned way. Dalam jurnal The Affordable Housing tahun 2016, disebutkan bahwa membeli rumah di abad 21 ini, akan berhadapan dengan rintangan yang sangat besar. Jangankan membeli, menyewa hunian yang layak pun aka berhadapan dengan lonjakan harga sewa yang makin tinggi,” ungkap Lamak.

Dalam amatan CUDES, kalangan milenials sesungguhnya masuk dalam kategori kelompok masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi perumahan sebagaimana program pemerintah yang digalakan beberapa tahun belakangan ini.

“Persoalannya, kalau untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah saja pasokan rumah bersubsidi tidak cukup dan mungkin saja tidak menarik bagi mereka karena lokasi yang jauh dari tempat kerja mereka, lantas bagaimana dengan milenials yang dari sisi gaya hidupnya saja sulit membayangkan mereka mau untuk membeli rumah di pelosok Karaang sana?”

Lamak mengingatkan pemerintah Indonesia harus siap untuk berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa program rumah bersubsidi hanya akan relevan bagi masyarakat di luar Jabodetabek.

“Ya, tidak bisa dipaksakan. Orang juga mikir, kalau tempat kerjanya di pusat Jakarta sementara rumah subsidi lokasinya di Cikampek sana, ya mana mau orang membeli kalau tidak ditempati. Untuk investasi? Ya, tetap saja statusnya di Jakarta tidak punya rumah juga kan? Dan lagi, seberapa banyak sih masyarakat kelas bawah yang berpikir soal capital gain dari investasi properti?” (AS/Foto: Ist)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.