November 28, 2022

Meikarta Bisa Jadi Shenzhen-nya Indonesia

WARTAPROPERTI.COM | Tanggal 26 Agustus 2017, saat memberikan sambutan dalam ajang Golden Property Awards 2015 di Raffless Hotel, Ciputra World, Jakarta, pendiri Lippo Group  Mochtar Riady sempat membuat khalayak properti nasional di ruangan itu terhenyak ketika berbicara tentang kawasan Cikarang-Karawang. Ada yang nyeletuk, jika mantan direktur utama Bank BCA di masa Om Liem dahulu itu sedang mempromosikan proyeknya di wilayah itu. Apalagi tidak lama berselang, meluncurlah proyek Orange County yang diklaim menjadi tumpuan penjualan Lippo pada tahun 2016.

“Kalau Tiongkok punya kawasan Shenzhen sebagai salah satu andalan, maka bisa saya bilang bahwa Karawang dan Bekasi merupakan ‘Senzhen-nya Indonesia,” ungkap Mochtar di hadapan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono yang hadir malam itu.

Shenzhen adalah kota di Propinsi Guang Dong di China Selatan yang berbatasan langsung dengan Hongkong. Sebuah kampung nelayan yang dalam sekejap berubah menjadi kota metropolitan baru. Perubahan secepat ini membuat Shenzhen juga dijuluki sebagai a city without story. Tempat ini dulunya dikenal dengan nama Bao’on yang damai dan tenang.

Shenzhen kini telah menjadi salah satu wilayah metropolitan terbesar di dunia. Populasi penduduk kota ini pada tahun 2016 untuk tercatat 10,828 juta, sedikit meningkat dari perkiraan 10,78 juta yang tercatat pada akhir tahun 2014. Peran investasi asing dan posisinya sebagai pusat keuangan telah membuat kota tersebut berubah dari kota pasar menjadi pusat teknologi dan manufaktur yang sangat ramai dengan pelabuhan kontainer tersibuk ketiga dan bandara tersibuk ke-4 di China.

Kota ini menempati peringkat ke-19 dalam Global Financial Centres pada 2016 dan terpilih sebagai salah satu dari 10 kota besar di China pilihan kaum ekspatriat. Orang-orang ekspatriat memilih Shenzhen sebagai tempat untuk menetap karena peluang kerja serta toleransi dan keterbukaan budaya di kota itu, dan bahkan Shenzen terpilih sebagai kota paling dinamis di China.

Nah, pernyataan Mochtar Riady bahwa kawasan Cikarang-Karawang akan menjadi Shenzhen-nya Indonesia, tentu bukan sebuah pepesan kosong. Apalagi melihat track record Lippo Group yang telah sukses mengembangkan beberapa kawasan menjadi kota baru, meski dalam skala yang lebih kecil. Tentu saja dengan tidak mengabaikan sejumlah proyeknya yang hingga kini belum menunjukan perkembangan yang berarti, semisal Holland Village di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Meikarta tampaknya menjadi jawaban atas pernyataan pria yang pernah ditahan oleh penjajah Jepang pada masa perjuangan kemerdekaan dahulu itu. Pasalnya, kota ini akan dibangun diatas lahan seluas 2.200 hektar dengan investasi mencapai Rp278 triliun.

“Lippo ingin membangun Kota Jakarta yang baru, yang infrastrukturnya dan sofistikasi berskala internasional. Kami harapkan jadi kota terindah dan terlengkap di Asia Tenggara. Setiap gedung baru yang digambar adalah yang real yang akan dibangun,” kata CEO Lippo Group, James Riady, dalam konferensi pers di Hotel Aryaduta, Jakarta, awal Mei silam.

Dalam skala global, membandingkan Shenzhen dengan Meikarta tentu tidak apple to apple. Namun dalam konteks evolusi sebuah kawasan dari lautan persawahan, lalu didominasi oleh kawasan industri hingga menjadi sebuah kota baru, tentu mimpi ini patut dicermati secara serius. Apalagi dengan sejumlah rencana besar pemerintahan Jokowi untuk memantapkan infrastruktur yang melintasi kawasan ini.

Dan, terkonfirmasi Meikarta benar-benar menjadi pengejawantahan Shenzhen di Indonesia sebagaimana pernyataan Mochtar Riady. Ini diamini oleh puteranya, James Riady,

“Harapan kami Meikarta jadi salah satu kota terpenting di Indonesia. Daerah sana adalah Shenzhen-nya Indonesia. Lebih dari 1 juta unit mobil, AC, elektronik dibuat di sana,” tukasnya. (FL/Foto: Ist)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.