December 3, 2022

Properti diramalkan akan stagnan pada 2018-2019

WARTAPROPERTI.COM | Memilih properti sebagai instrumen investasi jangka panjang kini telah jamak dilakukan oleh masyarakat. Ragam jenis properti yang dipasarkan pengembang pun menjanjikan keuntungan yang selangit sebagaimana sejumlah iklan yang muncul di layar televisi Anda. Sayangnya, tak banyak yang menghitung secara teliti, seberapa valid promosi keuntungan investasi yang disampaikan oleh pengembang.

Untuk properti hunian, pengembang kerap menawarkan dua jenis yakni rumah tapak dan apartemen. Nah, sebagai sebuah instrumen investasi, mana yang lebih menguntungkan, apakah rumah tapak atau apartemen?

Center for Urban Development Studies dalam rilis yang diterima media ini mengatakan, tingkat kenaikan penghuni apartemen dalam lima tahun terakhir meningkat pesat. Untuk Jabodetabek, rata-rata kenaikan okupansi penghuni apartemen mencapai 25%-27,5%. Proporsi terbesar dari penghuni apartemen adalah 40% penghuni sekaligus pemilik, sementara 60% adalah penghuni penyewa.

“Ini semakin membuktikan bahwa tinggal di apartemen sudah menjadi kebutuhan warga perkotaan yang inginkan kehidupan yang serba praktis dan nyaman,” ungkap CUDES.

Dengan fakta ini, investasi di apartemen menjadi sebuah pilihan yang tepat mengingat tingkat permintaan yang terus tumbuh dari tahun ke tahun. Sedikit berbeda dengan rumah tapak, pemilik apartemen yang disewakan kebanyakan berasal dari mereka yang sudah memiliki satu atau bahkan beberapa rumah tapak. Demikian pula para penyewa apartemen.

“Memang benar, penyewaan apartemen menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang tidak atau belum memiliki hunian. Namun, komposisi terbesar adalah mereka yang sesungguhnya sudah memiliki rumah tapak namun untuk mengatasi problem jarak dan waktu ke tempat kerja, mereka memilih menyewa apartemen untuk alasan efisiensi waktu,” papar CUDES lagi.

Dari sisi akumulasi keuntungan, lanjut CUDES, berinvestasi di apartemen memberikan tingkat keuntungan yang lebih baik ketimbang rumah tapak. Sejumlah alasan yang dapat dikemukakan antara lain; akumulasi pendapatan sewa apartemen dari sewa jangka pendek (harian/mingguan atau bulanan) tentu akan lebih tinggi ketimbang rumah tapak yang rata-rata periode sewanya mulai dari setahun bahan minimal dua tahun.

“Selain itu, biaya perawatan yang dibutuhkan oleh rumah tapak dalam satu periode yang sama, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya perawatan apartemen,” ungkap CUDES.

Tingkat kenaikan harga apartemen bagi mereka yang berhitung secara capital gain pun tidak kalah dibandingkan dengan rumah tapak. Apalagi bagi apartemen yang berada di lokasi strategis. (HH/Foto: WP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.