November 27, 2022

Suasana pemilihan unit dalam penjualan perdana sebuah proyek properti

WARTAPROPERTI.COM | Ketidaktahuan akan membuat konsumen tidak menyadari sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan tawaran harga yang tinggi atau rendah dari seorang penjual properti. Sebabnya adalah konsumen yang kurang mencari dan mendapatkan informasi, tetapi biasa juga karena terlampau banyaknya faktor yang memberikan andil pada harga sebuah properti. Jika dahulu, credo klasik menyebutkan lokasi sebagai aspek tunggal dan dominan dalam menentukan harga properti, maka kini elemen penentunya bertambah dengan sejumlah aspek seperti inovasi, skema pembayaran, fasilitas pendukung serta reputasi dan kredibilitas pengembang.

Di atas segalanya, properti mengalam pergerakan pasar yang tidak flat alias fluktuatif. Fluktuasi pasar menjadi ruang bagi penjual dan pembeli untuk meraup keuntungan di dalam transaksi yang mereka lakukan. Karena fluktuasi itu pula, seorang penjual harus tahu kapan saat yang tepat baginya untuk menjajakan properti jika hendak mendapatkan untung yang lebih tinggi. Demikian pula, bagi konsumen atau pembeli, fluktuasi pasar membuatnya harus memahami kapan saat yang tepat jika hendak membeli properti dengan harga yang bagus, yang artinya harga yang rendah?

Di Indonesia, pasar sangat mudah terbaca pergerakannya. Bisa dari pernyataan para pengembang properti, agen properti, pengamat dan laporan resmi otoritas keuangan seperti Bank Indonesia. Publik pun dapat dengan mudah mengetahui indikator-indikator umum melalui beberapa elemen seperti tingkat suku bunga, inflasi dan kurs nilai tukar sekalipun yang terakhir ini relatif kecil dampaknya bagi terbentuknya harga jual sebuah properti.

Bagi konsumen, kapan saat yang tepat untuk membeli sebuah properti? Jawabannya, jika properti yang dimaksudkan adalah sebuah proyek di pasar primer maka saat yang tepat adalah ketika pengembang meluncurkan harga perdana ke pasar. Biasanya, harga perdana ini berlaku temporer dan sering dijadikan sebagai instrumen untuk market test. Itu pun, sejumlah pengembang nasional menggunakan pola pemasaran melalui agen properti yang memberlakukanĀ  NUP atau nomor urut pemesanan. Artinya, pembeli harus antri dengan nomor urut yang diperolehnya. Ada risiko, jika NUP lebih banyak dari unit yang dipasarkan maka bisa saja konsumen tidak mendapatkan unit yang dimaksud alias kehabisan.

Nah, diluar moment penjualan perdana dengan NUP yang biasa dilakukan, ada rumusan yang lebih permanen bagi konsumen untuk mengetahui kapan saat yang tepat untuk membeli properti, baik di pasar primer (proyek baru) maupun di pasar sekunder (properti seken). Berikut cara mengenalinya:

  1. Cek suku bunga KPR, jika suku bunga sedang melambung tinggi maka penjualan properti sedang lesu karena mayoritas pembeli properti khususnya di segmen menengah ke bawah mengandalkan pembiayaan dari perbankan.
  2. Broswing dan cari tahu, bagaimana komentar industri baik dari developer, pengamat dan agen properti tentang kondisi pasar dan penjualan properti dalam periode tersebut. Jika penjualan sedang lesu maka periode tersebut menjadi saat yang tepat untuk membeli properti.
  3. Tengok dan cermati promo-promo penjualan yang dilakukan oleh developer properti melalui iklan di media maupun di bilboard. Jika skema pembayaran dimungkinkan untuk cicil dalam durasi yang lama, misalnya DP dicicil 36 kali, atau cash bertahap selama 60 kali maka ini menjadi indikasi saat yang tepat untuk membeli.

Mengapa ketiga hal di atas menjadi indikator saat yang tepat bagi konsumen untuk membeli properti? Karena dalam kondisi penjual kesulitan memasarkan properti, ia akan menciptakan berbagai program yang disebut sebagai inovasi pemasaran dengan potongan harga, promo jangka waktu cicilan serta aneka program lainnya. Dalam kondisi seperti ini, harga properti cenderung stabil karena penjualan yang relatif lambat.

Persis seperti kondisi pasar properti nasional dalam kurun waktu 2015-2017 yang dikeluhkan melambat. Harga properti, kendatipun mengalami kenaikan, secara umum tidak lebih dari 10% kenaikannya. Ini menandakan bahwa konsumen yang memutuskan untuk membeli properti pada saat ini akan menikmati keuntungan lebih, karena cepat atau lambat ketika pasar mulai bergairah kembali, harga properti akan meroket dengan kenaikan yang bisa dua kali lipat dari prosentase kenaikan harga saat ini.

So, jika dalam kurun waktu belakangan ini Anda mendengar ada yang mengatakan: Its time to buy a property, maka pernyataan itu ada benarnya karena alasan di atas. Namun, jika pernyataan itu terlontar saat pasar sedang bergairah tinggi, maka yakinlah, itu bagian dari campaign produk. (WP/Foto: JababekaResidence)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.