November 29, 2022

Kaum Komuter di New York membludak di stasiun kereta setempat (Foto: New York Daily)

WARTAPROPERTI.COM | Halaman depan Koran New York Post hari Senin (10/7/2017) terbit dengan headline “Welcome to hell,” sebagai gambaran kesengsaraan 600.000-an kaum komuter kota itu yang terlantar akibat transportasi andalan mereka terganggu. Dikabarkan, sejumlah jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta ke stasiun di kota itu mengalami gangguan akibat perbaikan jalur ekstensif di Pennsylvania Station yang dimulai pada hari Senin. Akibatnya, otoritas setempat pun menonaktifkan sejumlah kereta setidaknya hingga 8 minggu kedepan.

Kondisi yang menimpa para pengguna transportasi publik seperti ini bukan baru pertama kali dialami oleh kota dengan penduduk terpadat di Amerika Serikat itu. Sejumlah peristiwa yang terjadi sebelumnya telah menjadi mimpi buruk kaum komuter. Tercatat, pada Oktober 2012 ketika badai Sandy melanda kota itu, kereta bawah tanah harus dihentikan operasinya selama 83 jam.

Juga pada saat serangan teroris ke WTC, mengakibatkan penghentian total sistem kereta bawah tanah New York City selama sekitar dua jam. Banyak stasiun di Manhattan bagian bawah tetap tutup selama berbulan-bulan.

Sebelumnya lagi, pemogokan oleh Serikat Pekerja Transportasi pada bulan Desember 2005 menyebabkan penutupan tiga hari di sistem kereta bawah tanah kota. Perekonomian kota itu mengalami kerugian $ 400 juta setiap hari, dan otoritas transportasi kota melaporkan pendapatan turun $ 27,3 juta pada bulan itu.

Terkait kejadian hari Senin ini, Gubernur Negara Bagian Andrew Cuomo telah memperkirakan penutupan sebagian di Stasiun Pennsylvania New York akan menyebabkan “musim panas neraka” untuk 600.000 orang yang naik kereta masuk dan keluar dari stasiun di bawah Madison Square Garden.

Apa yang terjadi di New York ini, dalam skala yang berbeda tentu saja bukan hal yang baru bagi para pengguna moda transportasi kereta listrik di Jabodetabek. Jangankan pemadaman listrik, ada lokomotif yang mengalami masalah saja sudah bisa membuat perjalanan tertunda selama beberapa jam. Namun, di Indonesia saat ini sejumlah opsi transportasi masih dapat dijumpai bila mengalami kondisi-kondisi seperti ini. Apalagi moda transportasi lain pun masih tersedia sebagai pilihan alternatif manakala ada masalah dengan kereta.

Namun, bukan tidak mungkin kondisi seperti yang dialami oleh kaum komuter di New York ini akan terjadi juga di Indonesia manakala sistim transortasi publik mulai dibenahi dengan tingkat pengguna yang naik berkali-kali lipat dari yang searang. Bayangkan, apa yang akan terjadi ketika kereta mendadak tidak dioperasikan?

“Dibandingkan dengan Eropa, saya merasa seperti kita hidup di Dunia Ketiga,” kata Mark Van Wagner, seorang seniman dan agen seni yang membawa Long Island Rail Road dari Bellport, New York sebagaimana dikutip Reuters. (FL)

Leave a Reply

Your email address will not be published.