November 27, 2022

Pasar segmen menengah keatas tidak bisa berharap banyak saat ramadan.

JAKARTA – Tingkat kenaikan permintaan akan kebutuhan pokok menjelang Lebaran telah menjadi faktor penggerak utamanya terkereknya angka inflasi setiap ramadan. Seiring dengan itu, sektor properti pun mengalami pelambatan lantaran konsentrasi pasar lebih fokus untuk merayakan hari raya Idul Fitri.

Analis properti dari Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak mengatakan, dalam ramadan season seperti ini, properti tidak bisa berharap banyak, apalagi untukĀ  segmen menengah ke atas. Kondisi yang mungkin sedikit mendapatkan efek positif dari musim seperti ini adalah segmen menengah ke bawah.

“Mayoritas THR yang diterima para karyawan digunakan untuk kebutuhan konsumtif menjelang dan hingga hari raya. Kalaupun ada yang menyisihkannya untuk transaksi properti, potensinya ada di segmen menengah ke bawah. Mereka yang memang merencanakan tunjungan yang diterima dari perusahaan dipegunakan untuk pembayaran uang muka rumah,” ungkapnya.

Siklus tahunan ramadan memang berat bagi sektor properti. Apalagi dalam kondisi dimana pasar secara umum di tahun ini belum sepenuhnya pulih. Namun ada harapan, memasuki akhir kwartal ketiga hingga kwartal keempat, pola konsumsi pasar sudah kembali ke kondisi normal.

“Memasuki bulan Agustus hingga Oktober, ada harapan properti akan menanjak lagi karena pola pengeluaran dan konsumsi pasar sudah lepas dari hari raya. Tinggal bagaimana indikator makro-nya saja, bagaimana tren nilai tukar dan inflasi karena meski secara langsung mungkin tidak berpengaruh banyak pada segmen menengah ke bawah, tetapi secara psikologis akan memberikan tekanan tersendiri bagi pasar,” ungkap Lamak. (WP/Foto: WP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.