November 28, 2022

Proyek Holland Village Manado yang menjadi masalah lantaran tidak menunjukkan progres pembangunan yang memuaskan konsumennya. (Foto: Celebesnews.id)

MANADO – Lippo Group menuai masalah dalam proyek Holland Village Manado. Janji pengembang untuk serah terima kunci pada Mei 2017, hingga setahun lewat tidak terealisasi. Pembangunan pun mangkrak. Manajemen Lippo membantah jika proyek tersebut tidak memiliki ijin mendirikan bangunan (IMB). Sayangnya, upaya konsumen menuntut hak mereka karena merasa dirugikan, justru diberitakan oleh media milik Lippo Group sebagai tindak kekacauan yang merusak acara silahturahmi.

“Acara silaturahmi antara pimpinan pengembang Holland Village Manado dengan para pemilik di sebuah hotel di Manado, Sulawesi Utara, terganggu dengan ulah sekelompok orang yang melakukan provokasi dan tindakan anarkistis, Rabu (30/5). Aksi tersebut kemudian ditertibkan oleh aparat Kepolisian,” demikian tulis beritasatu.com, grup media milik Lippo Group, Kamis (31 Mei 2018).

Sementara itu, Tribun Manado, media milik Kompas Gramedia Group (KKG) menulis dengan lebih detail. Selama hampir dua jam Presiden Komisaris Lippo Group Theo L Sambuaga dan Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya disandera puluhan pembeli Holland Village Manado,  di ruangan Talaud Satu lantai lima Aryaduta Hotel Manado, pada Rabu (30/5/2018). Para penyandera menutup pintu keluardengan kursi dan meja agar pimpinan Lippo Group tak bisa meninggalkan ruangan.

Berbeda dengan foto Holland Village yang ditayangkan media lain, ini kondisi Holland Village yang ditayangkan media milik grup Lippo (Foto: beritasatu.com)

Konsumen proyek milik Lippo Group di Manado itu kesal karena selaku pengembang real estate itu tidak kunjung memenuhi janji membangun rumah yang sudah mereka bayarkan. Kedua petinggi Lippo itu pun dipaksa untuk menandatangani pernyataan hitam di atas putih yang menyatakan bahwa jika sampai pada tanggal 1 Juli 2018 tidak memenuhi janji membangun rumah, maka pihak Lippo Group akan mengembalikan uang yang telah mereka keluarkan.

“Saya sudah bayar uang sampai Rp 1,9 miliar untuk dapat rumah di Holland Village, tapi sampai sekarang tidak ada pembangunan sama sekali,” ujar Rivai Rompis, seorang pembeli.

Ia bahkan meminta agar pihak manajemen Lippo Group berhenti membohongi para pembeli.

“Ini sudah pertemuan ke lima, dan saya sudah menunggu empat tahun untuk mendapatkan rumah itu. Tapi, jangankan kunci, rumahnya pun sampai sekarang belum ada,” ucapnya.

“Saya sudah bayar rumahnya lunas, tapi sampai hari ini hanya tiang berkarat yang dibangun,” kata Lendi Maramis salah satu pelanggan, dengan nada kesal. “Kembalikan uang saya, karena sudah tiga tahun kami menunggu,” pintanya.

Namun, permintaan menandatangani pernyataan hitam di atas putih dari konsumen itu tak dipenuhi oleh kedua pimpinan Lippo Group.

“Bulan Juni nanti kami sudah akan mulai membangun, jadi kami tidak ingin menandatangani apa saja perjanjian hitam di atas putih,” ujar Theo Sambuaga dengan tegas sembari menambahkan ia datang dari Jakarta ke Sulut adalah untuk menyelesaikan masalah ini.

“Jika bapak dan ibu tak mau menerima usulan kami, maka silahkan lapor ke polisi. Tapi, yang jelas saya datang dari jauh ke sini untuk memastikan kalau pembangunan akan dilakukan dengan serius ” ujarnya.

Sekitar 45 menit kemudian Kapolresta Manado, Kombes Pol FX Surya Kumara dan belasan polisi datang ke lokasi.

Kapolresta meminta bagi para konsumen yang belum puas dengan hasil mediasi ini, silakan menempuh jalur hukum. “Silakan laporkan saja, di sini ada Kasat Reskrim pasti ditindaklanjuti,” ucapnya.

Sebelumnya, saat melakukan penjualan proyek ini pihak developer berjanji akan melakukan serah terima kunci di bulan Mei 2017 hingga kini tak kunjung terealisasi. Pihak Holland Village juga menjanjikan membayar kompensasi denda penalti atas keterlambatan. Namun, hingga tahun 2018, ratusan konsumen tak kunjung menerima kompensasi. (TBN/WP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.