December 3, 2022

JAKARTA –  Bukan baru sekarang, pembiayaan pembelian properti dilakukan secara internal dari pihak pengembang. Caranya, dengan memberikan pola pembayaran uang muka maupun cicilan bertahap bagi konsumen untuk pembelian properti milik mereka. Cara ini diakui pengembang, memiliki tingkat kegagalan atau kredit macet yang kecil dan tidak berpengaruh besar bagi bisnis properti.

Wakil Direktur PT Metropolitan Kentjana Tbk, Jeffri Tanudjaja di Jakarta kemarin (25/7/2018)  mengatakan di perusahaan ada program pembiayaan tunai bertahap. Dia menyebut, jumlah konsumen yang menggunakan jenis pembiayaan tunai bertahap sangat banyak, mencapai ratusan orang. Namun, persentase kegagalan dalam pembayaran sangat kecil, kurang dari 5%. Sehingga tidak berimbas terhadap kredit konstruksi.

“Kita ada konsumen yang melakukan pembayaran bertahap, selama ini mungkin ratusan pembeli. Tetapi hanya 1-2 orang saja yang gagal,” jelas Jeffri.

Dia berpendapat, hal ini dimungkinkan karena mayoritas pembeli dari produk Metropolitan Kentjana adalah end-user dan bukan spekulan. Meskipun begitu, Jeffri memprediksi kondisi ini bisa saja berbeda dengan proyek dari pengembang lain, karena sangat bergantung dari target pasar dan segmen produk yang dipasarkan.

Corporate Secretary Alam Sutera Tony Rudianto mengatakan hal yang senada dengan Jeffri. Pasalnya, sangat sedikit pembayaran tunai bertahap yang macet, bahkan sampai mempengaruhi kredit konstruksi.

“Kami ada juga program itu [pembayaran tunai bertahap] hanya saja sangat kecil angka kegagalannya,” ungkap Tony kepada Bisnis.

Sebagai informasi, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyatakan bahwa skema pembayaran tunai bertahap dalam pembelian hunian bisa menjadi penyebab kenaikan angka kredit bermasalah pada segmen konstruksi perseroan. Menurut Direktur Manajemen Risiko BTN Nixon Napitupulu skema tunai bertahap umum dilakukan oleh pengembang hunian vertikal.

Menurut Nixon, skema ini wajar guna menambah uang tunai yang masuk ke perusahaan. Namun skema ini justru cenderung dilakukan sebagian pengembang dalam rangka mengejar target penjualan sebelum proyek hunian dibangun.

Oleh sebab itu dia menilai cara ini berisiko karena membuat cash flow pengembang semakin tipis. Selain itu, dana yang semestinya bisa dipakai untuk melanjutkan konstruksi justru digunakan untuk memberikan tunai bertahap kepada calon pembeli. (BSN/WP)

Leave a Reply

Your email address will not be published.