November 28, 2022
Panel solar cell (Foto: solarcellsurya.com)

Biaya instalasi yang mahal jadi penyebab mengapa para pengembang masih enggan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya di rumah dan hunian lain yang mereka kembangkan.

WARTAPROPERTI.COM – Padahal, tren pembangunan perkotaan saat ini sudah mulai mengaplikasikan apa yang disebut rumah pintar yang hemat energi. Para pemilik gedung, arsitek, desainer rumah dan pemerintah pun mulai memahami tren dan tantangan termasuk percampuran energi bersih guna untuk membangun hunian hijau dan pintar baik di gedung komersial, residensial, dan kawasan industri. Salah satunya dengan solar cell.

Sementara itu, di dalam Peraturan Menteri ESDM No. 50/2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, disebutkan besaran biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkit energi yang dianggap tersebut terlalu mahal yakni mencapai 85 persen dari harga BPP lokal.

Baca juga: Jumlah permukiman kumuh di Indonesia, naik 100%

Adapun, dengan biaya Rp13 juta hingga Rp18 juta per kilowatt peak (KWp) sebagai modal awal, PLTS atap memang masih menjadi pertimbangan penting bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini yang mengakibatkan target pemasangan PLTS atap tidak tercapai.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andhika Prastawa mengatakan bahwa permen tersebut membuat para pengembang yang tertarik pada pembangkit energi baru terbarukan merasa nilai keekonomiannya sangat rendah. (MarloKR/Bisnis)

Leave a Reply

Your email address will not be published.