December 3, 2022
Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta berpotensi gagal menjalankan program Rumah DP Nol Rupiah. Padahal, ini program unggulannya ketika berkampanye sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

JAKARTA-WARTAPROPERTI.COM | Hingga Oktober 2019, dua tahun setelah menjabat, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hanya sanggup mewujudkan janji kampanyenya untuk menghadirkan Rumah DP Nol Rupiah, sebanyak kurang dari 1%. Pasalnya dari 232.214 unit hunian yang ditargetkan, hanya sanggup dibangun 780 unit saja selama 2 tahun. Jumlah ini setara dengan 0,33%, jauh dibawah 1% bahkan tidak mencapai 1/2%. Ini berarti rerata dalam setahun, Pemprov DKI Jakarta hanya sanggup menyediakan 1,15% saja, atau setara dengan 390 unit.

Analis Properti dan Perkotaan dari Center for Urban Development Studies (CUDES), Ferdinand Lamak kepada media ini mengatakan, tidak ada sedikit pun celah bagi Anies Baswedan untuk berkelit. Pilihannya hanya satu untuk dengan rendah hati mengakui bahwa program tersebut gagal, atau dengan kata lain dia tidak bisa memenuhi janjinya kepada warga Jakarta yang sudah memilihnya pada Pilgub 2017 silam.

Anies juga diminta untuk tidak melanjutkan pencitraan dengan menjadikan 780 unit rumah di Klapa Residence itu sebagai portofolio keberhasilannya.

“Gubernur Anies Baswedan memang lihai dalam bermain kata-kata, tetapi untuk program Rumah DP Nol Rupiah, kita bicara angka. Kita lihat target yang dipatok berapa, artinya Pemprov DKI Jakarta melahirkan angka target ini pun tentu dengan pertimbangan yang matang, bukan asal sebut saja. Nah, setelah itu kita cek, berapa realisasinya? Kalau yang masih dibangun sih enggak usah dihitunglah,” ungkapnya.

CUDES, kata Lamak, mengamati benar evolusi program perumahan dan permukiman kedua pasangan kandidat Pilgub DKI Jakarta 2017. Untuk pasangan Ahok-Djarot ketika itu, tidak luar biasa kerena mereka konsisten untuk melanjutkan program rusunawa yang sudah berjalan.

“Yang unik adalah Anies – Sandi ketika itu. Anda mungkin tidak mengetahui jika ketika bertemu dengan komunitas wartawan properti dan pelaku bisnis properti, Anies ogah bicara tentang program perumahan, apalagi proyek perumahan atau permukiman. Dia memiliki konsep, gerakan perumahan atau housing movement. Entah, apa yang dia maksudkan dengan terminologi ini.”

Lanjutnya, setelah itu konsep ini pun hilang tidak terdengar ketika debat kandidat di televisi. Anies justru mengumbar tentang keniscayaan menghadirkan rumah tapak, catat ya rumah tapak, di wilayah DKI Jakarta dengan harga yang terjangkau antara Rp350 juta sampai Rp500 juta.

“Ia bahkan membawa-bawa nama portal listing properti Rumah123.com yang notabene portal ini sebelum diakuisisi oleh REA, Australia, didirikan oleh Sandiaga Uno, tandemnya di Pilgub ketika itu. Celakanya, Anies Baswedan salah dan tidak teliti membaca data karena di dalam listing rumah dijual, lokasinya bisa saja di Cibubur, Bogor namun untuk menarik calon pembeli, lokasinya sengaja ditulis berada di wilayah Jakarta,” imbuhnya.

Hingga titik ini Anies masih berbicara tentang rumah tapak. Bukan rumah susun. Ia pun sangat yakin, seperti orang yang sangat tahu bahwa masih ada rumah seharga dibawah Rp500 juta di wilayah DKI Jakarta. “CUDES mengecam keras ketika itu,” ungkapnya lagi.

Belakangan, konsep rumah tapak dengan harga terjangkau yang akan dibiayai dengan DP Nol Rupiah ini pun menguap. Entah kenapa, tiba-tiba berganti dengan rumah susun. “Nah, ketika menggunakan terminologi rumah susun, Anies rupanya sadar bahwa ini adalah istilah yang dipakai oleh para pendahulunya di DKI Jakarta dan ia akhirnya menawarkan istilah baru yakni rumah berlapis. Sayangnya, kali ini Anies tidak dapat bersilat lidah untuk mempopulerkan istilah ini.”

CUDES menilai, Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan, sama sekali tidak memiliki konsep pembangunan perumahan dan permukiman untuk warga kota. Ini dapat dibuktikan dengan evolusi demi evolusi dari konsepnya ketika itu yang hasil akhirnya pencapaian program Rumah DP Nol Rupiah tidak sampai 1% pertahun dari target.

“Nah, ketidakpahaman Anies dan juga Sandiaga ketika itu tertutup oleh kekuatan mereka menyakinkan rakyat Jakarta. Jerumus yang akhirnya terbukti hari ini bahwa Rumah DP Nol Rupiah adalah sebuah program pembangunan Pemprov DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Anies Baswedan, yang pada dasarnya cacat sejak lahir karena pencapaiannya yang amat sangat rendah.”

CUDES mendesak Anies Baswedan untuk mengumumkan ke publik jika pemerintahannya tidak mampu mewujudkan janji kampanye Rumah DP Nol Rupiah. “Kstaria sajalah. Toh kalau Anies mengaku salah dalam hal ini, rakyat tentu maklum karena bukan kompetensinya dia. Kompetensinya dia kan bicara dan beretorika. Kasihan kalau tidak segera dijelaskan ke publik, rakyat Jakarta yang belum punya rumah pun akan terus menanti dan hingga kepemimpinannya berakhir 3 tahun mendatang pun tak akan terealisasi,” ungkap Lamak yang juga Chairman CUDES ini. (Marlo KR)

Leave a Reply

Your email address will not be published.