November 28, 2022
Mal di Jakarta (Foto: Istimewa)

Pengelola mal saat ini sedang mengalami kesulitan serius karena para tenant atau penyewa gerai atau ritel kesulitan membayar cicilan. Penerapan skema Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat cashflow mereka terganggu serius.

JAKARTAKetua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengungkapkan saat ini para penyewa sedang mengajukan keringanan biaya sewa. Skemanya tergantung kepada masing-masing mal, dengan penurunan biaya sewa maupun jangka waktunya diperpanjang.

“Kita memang nggak lakukan pembayaran penuh, mungkin sedang dilakukan pencicilan dan minta keringanan. Utamakan karyawan dulu dalam jangka sementara untuk bertahan. Nilainya ya B2B (business to business),” sebut Budihardjo, Senin (27/4).

Ia juga menginstruksikan secara langsung para tenant untuk berterus terang kepada pengelola tentang kondisi yang dialami. Sehingga diharapkan ada penurunan biaya. Meski dia tidak bisa menyembunyikan tetap kesulitan membayar, sekalipun ada penurunan biaya. Pasalnya, uang yang masuk bagi beberapa tenant pun tidak ada.

“Di situ kebijaksanaan mal, apa nanti bisa diberikan penundaan jangka panjang terhadap mereka yang tutup tadi. Karena mereka kan benar-benar nggak bisa buka. Intinya mau niat, tapi kas nggak ada bingung juga. Itu yang saya minta kebijaksanaannya ditunda apa gimana,” sebutnya.

Meski demikian, ada sejumlah tenant yang dinilai mendapat limpahan untung dalam kondisi saat ini, yakni ritel, toko farmasi atau obat. Ritel-ritel dengan basis itu diharapkan tetap bisa membayar cicilan sebagaimana mestinya.

Hal ini disebut oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan. “Ada tenant yang sekarang untung banyak kan. Contoh Supermarket yang beli ngantre, farmasi juga laku. Yang pasti malnya rugi, mana ada yang untung, operasional dan pendapatan nggak imbang,” katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (27/4)

Mengenai permintaan penurunan harga sewa, Stefanus sudah menerima sejumlah permintaan. Bahkan semenjak beberapa waktu lalu. “Dari awal mereka juga minta keringanan dan udah diberikan sama mal-mal. Dan saya kira udah dibicarakan sama antara tenant dan mal yang disewa. Tiap mal, tiap tenant kondisinya beda,” paparnya.

Imbasnya, para pengelola pusat perbelanjaan juga menjadi kesulitan. Pasalnya, mereka tetap harus mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit.

“Operasional nggak ada penurunan sama sekali, dikit saja. Penggunaan listrik tetap jalan. Nggak mungkin digelapin, security tetap jaga, hand sanitizer lebih banyak. Jadi saya kira yang di sini, bandingan tenant dan mal, malnya lebih menderita dari tenant,” kata Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.